Jumat, 16 Januari 2015

Mengenal Lebih Dekat Su-47 Berkut, Sang Penjaga Ibu Pertiwi.

 Su-47 (S-37 Berkut) Golden Eagle jet tempur
Militer Indonesia-Sukhoi saat ini disamping penghasil pesawat sipil juga penghasil pesawat tempur yang sudah malang melintang di dunia dengan produk yang laris dipasaran yakni Su-27 dan Su-30. Berbagai versi dari kedua jenis pesawat itu yang sudah meramaikan perdagangan dunia dari Eropa hingga Asia, menjadi primadona karena memiliki harga yang murah namun kinerjanya diatas rata-rata pesawat dikelas yang sama yakni Generasi 4. 

Program KFX/IFX yang sudah berjalan hasil kerjasama dengan Korea Selatan ternyata bukan satu-satunya kerjasama pembuatan pesawat tempur Indonesia, banyak proyek dilakukan termasuk LFX, Srikandi, Bango dan masih banyak lagi. Selain itu Indonesia juga bekerjasama dengan Rusia dalam pengembangan bersama pesawat tempur Generasi 4++ dan Generasi 5 telah berjalan cukup lama, satu diantaranya dengan Sukhoi. Banyak prototipe dari Sukhoi yang menjadi bahan eksperimen tenaga ahli kita satu diantaranya Su-47 Berkut. 

Bentuk pesawat dengan sayap menyapu kedepan tentu tidak lazim dalam desain pesawat tempur saat ini, namun ternyata memiliki keunggulan tersendiri. Sayap menyapu kedepan menghasilkan koefisien angkat maksimum yang lebih besar, momen lentur yang lebih kecil, dan delayed stall. Pada saat pesawat dalam posisi menyerang, sapuan kedepan secara geometris menghasilkan sudut datang sayap bagian yang lebih besar ketika sayap menekuk dibawah muatan. Ini berarti daya angkat menjadi besar, daya muat lebih massif, sudut datang lebih besar. Namun desain ini memiliki kelemahan yakni cenderung mengalami kegagalan secara struktural pada kecepatan rendah, yang kemudian diatasi menjadikan sayapnya menekuk kearah bawah.

Su- 47 memiliki dua mesin twin turbofan masing-masing memberikan daya dorong hingga £ 18.700 dan £ 32.000 di afterburner. Pesawat ini memiliki kelincahan yang sangat tinggi dimana radius putar maksimalnya 1.090 meter, pada kecepatan subsonik memungkinkan pesawat untuk mengubah sudut atas menyerang dan jalur penerbangan yang sangat cepat , dan juga mempertahankan manuver di supersonik pesawat flight. Dan untuk pertempuran jarak pendek, jarak sependek ini bisa menjadi malapetaka bagi musuh. Dalam hitungan detik, posisi Berkut sudah siap untuk melesakkan senjatanya. Kecepatannya juga mengesankan dunia yang hampir mencapai 2 match. Disamping itu pesawat ini memiliki kecepatan minimum yang rendah, mampu take-off dan landing jarak pendek sehingga sangat cocok ditempatkan di Lapangan Udara yang pendek terutama di pulau-pulau kecil.  

Badan pesawat ini dibangun terutama dari aluminium dan paduan titanium dan 13 % berat dari bahan komposit. Sedang panel sayapnya dibangun hampir 90 % komposit . Pesawat ini memiliki kemampuan menggotong 14 titik senjata dimana bisa membawa rudar udara ke udara (Air to Air) yakni R-77, R-77PD, R-73 dan K-74 serta rudal udara ke permukaan (Air to Surface) yakni X-29T, X-29L, X-59M, X-31P, X-31A, KAB-500, dan KAB-1500. 



Pada perkembangan selanjutnya sayap menyapu kedepan ini dibuat dapat berputar kearah belakang selayaknya diterapkan pada pesawat Mig-23/27. Tujuannya disamping untuk mendapatkan manuver sesuai yang diinginkan pilot, ternyata juga untuk kamuflase. Maka bila anda melihat pesawat tempur lewat diatas anda dan berbentuk seperti EF Thypoon dan Rafale, jangan-jangan itu si Berkut ini, hahaha. Salam NKRI.


Jumat, 09 Januari 2015

Membangun Pangkalan Militer Di Bulan (Intermezo Aja)

pangkalan bulan rusia

Militer Indonesia-Pangkalan militer pastilah identik dengan suatu tempat atau daerah yang ditempati pasukan atau barak militer yang tentu saja isinya berbagai macam alutsista yang kesemuanya itu ada di bumi. Dan itu memang benar adanya, meskipun ada beberapa negara yang memiliki pangkalan militer diluar bumi, sebut saja Jerman, Rusia dan Amerika Serikat yang dikabarkan telah membangun pangkalan militer di Bulan.

Bila kita telah menguasai ilmu tentang roket dan propelan, pesawat serta satelit maka tidak menutup kemungkinan untuk mampu menyusul mereka-mereka untuk membangun pangkalan militer serupa di Bulan. Apalagi dengan hubungan mesra Indonesia dengan Jerman dan Rusia, tentu ini menjadi modal yang baik untuk mensukseskan  program ini.Mengingat bulan tidak jauh berbeda dengan bumi keadaannya, air dan udara juga tersedia disana, hanya kita-kita ini dibodohi dengan menyatakan bulan hampa udara dan tak berpenghuni. Indonesia selayaknya membangun pangkalan Militer di Bulan, apapun konsekuensinya, kalaupun terjadi perang disana saya yakin tidak akan ada yang tahu dan mungkin saja teleskop Nasa mengira itu meteor berseliweran. 

Pangkalan Militer Jerman di Bulan


Bulan selalu menjadi panggung konspirasi untuk para teoritikus dan ide-ide mereka. Para teoritikus konspirasi tidaklah memiliki akal yang pendek untuk menelan mentah-mentah tentang pendaratan Apollo 11 pada tahun 1969 dan omong kosong tentang motif rahasia yang direncanakan oleh NASA untuk mengebom Bulan.
Hal tersebut berlaku untuk Nazi. Ada banyak teori yang melibatkan teknologi rahasia Nazi dan mistisme. Nazi sangat familiar dengan Bulan, begitupun sebaliknya. Maka tak heran jika jantung teknologi canggih di dunia di kuasai oleh mereka. Itu semua berkat Pangkalan Militer Jerman di Bulan.



Banyak peneliti yang berteori bahwa Nazi berhasil mendarat di Bulan pertama kali kemungkinan sekitar awal tahun 1942, 27 tahun sebelum pendaratan Apollo 11 pada tahun 1969. Teori ini didasarkan pada gagasan tentang eksperimen dan penelitian Nazi dengan teknologi baru di bidang propulsi dan peroketan.
Penelitian ini diduga menghasilkan UFO Nazi. Piring terbang UFO dikembangkan selama Perang Dunia II untuk berbagai tujuan, termasuk untuk mengeksplorasi ruang angkasa. Banyak klaim yang disampaikan oleh para pilot sekutu dan para anggota kru yang membuktikan tentang keberadan piring terbang. Hal ini diduga bahwa Nazi akhirnya mampu mendarat di Bulan dengan salah satu piring terbang mereka.
Para peneliti mengklaim bahwa Nazi berhasil membangun sebuah pangkalan militer rahasia di Bulan.

Teknologi Maju Jerman

Salah satu klaim menyatakan bahwa Nazi membawa perlatan berteknologi canggih untuk menyelesaikan dan mempertahankan pangkalan tersebut. Salah satu teknologi yang terkutip adalah penggunaan ilmu robotika untuk pertama kalinya. Pernyataan lain adalah tentang pemalsuan pendaratan Apollo 11. Seharusnya, Jika Amerika benar-benar mendarat di bulan, mereka akan menetap di pangkalan tersebut. 
Pemalsuan yang diduga adalah karena Amerika, bersama dengan negara-negara maju lainnya seperti Rusia dan Jepang, tidak ingin negara-negara dunia ketiga atau masyarakat umum untuk mengetahui bahwa Bulan adalah tempat yang “survivable” dimana terdapat air,atmosfer,dan tumbuhan.
Teori dan klaim seperti ini telah terdengan sejak tahun 1950-an. Oleh karena itu, orang akan berpikir bahwa teori-teori tersebut memiliki bukti kuat untuk mendukund klaim mereka. Pada kenyataannya, semua bukti yang diajukan untuk mendukung pangkalan Nazi di Bulan ditentang,dibantah,dan bahkan dianggap sebagai fiksi belaka.
Sebagai contoh, piring terbang Jerman tidak pernah didokumentasikan secara resmi. Banyak klaim yang menyatakan bahwa blueprint dan file-file lain yang digunakan untuk membangun,mengevaluasi, dan bereksperimen dengan perangkat tersebut hancur ketika Nazi menyerah kepada sekutu.
Terdapat sebuah pernyataan bahwa pesawat ruang angkasa yang sebenarnya disimpan bersama dengan agenda mereka di fasilitas bawah tanah rahasia di Antartika yang dikenal sebagai “New Swabia”.




Adapun klaim dari Pangkalan Militer Jerman di Bulan dan suasana "survivable" di bulan, ini dikemukakan oleh Vladimir Terziski. Namun ia sering dituduh mem-fabrikasi penelitiannya bersama dengan bukti video dan foto. Akhirnya, selama pendaratn Apollo 11 terjadi, hanya seperti yang digambarkan pada tahun 1969.

Tidak hanya itu, terdapat hampir 400.000 orang yang bekerja pada proyek tersebut selama 10 tahun menjaga skenario tersebut dengan nyawa mereka.


Hitler telah mengembangkan teknologi tinggi jauh sebelum Rusia dan Amerika Serikat, bahkan teknologinya hingga saat ini belum ada yang menyamai, mengapa kita harus ragu. Apalagi Hitlerpun rela meninggalkan negaranya hanya untuk mengisi hari-hari terakhirnya di Indonesia, jadi memang Hitler tahu bahwa kitalah bangsa yang terpilih seperti yang di nubuatkan dalam kitab-kitab terdahulu. Maka, kalau kita mau bersungguh-sungguh tentu tidak ada yang tak mungkin, kalau perlu mari kita kibarkan bendera Merah Putih di seantero Bulan, hehehe.... Salam NKRI