Rabu, 26 Februari 2014

Antisipasi Perang Berlarut, Kekuatan Militer Pulau Jawa 110% (Opini)


Militer Indonesia-Gonjang-ganjing politik dan hubungan internasional khususnya dengan tiga tetangga terdekat yakni Australia, Singapura dan Papua Nugini patut dicermati. Dari peristiwa penyadapan oleh kelompok lima mata (five eyes) yaitu Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura yang kemudian bekerjasama dengan Amerika Serikat lewat badan inteligen NSA hingga peristiwa-peristiwa selanjutnya baik berupa pelanggaran wilayah RI oleh Kapal Perang AL Australia, Penerobosan ruang udara oleh F15 SG di udara Batam, pelarangan KRI Usman Harun melewati wilayah Singapura, hingga pembakaran kapal nelayan Papua oleh Papua Nugini. Dan kalau dikilas balik adanya penempatan kekuatan militer AS di selatan Indonesia yaitu di Darwin, Pulau Cocos dan Pulau Chrismast jelas-jelas mengepung Pulau Jawa yang oleh Amerika untuk menghadapi Hegemoni China. Rentetan peristiwa ini seolah-olah sebuah lakon yang telah disusun secara sistematis dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Dan momentumnya adalah tahun politik yaitu tahun 2014.
Harus disadari bahwa 75% rakyat Indonesia berada di Pulau Jawa dengan luasan yang tak seberapa dibandingkan dengan pulau-pulau besar yang lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Pusat pemerintahan dan pusat ekonomi masih Pulau Jawa yang mendominasi, meskipun pembangunan sudah merata namun tak dapat dipungkiri, kesemuanya itu pusatnya disini. Pusat kebudayaan dari jaman purba hingga saat inipun Pulau Jawa tak tergantikan, bahkan telah mulai terkuak bahwa peradaban awal di bumi ini ada di Pulau Jawa termasuk Nabi-Nabi kita. Berbagai penemuan termasuk Candi Borobudur, Ratu Boko, Gunung Padang, Gunung Sadahurid, dll ternyata menyisakan banyak pertanyaan, mengapa kebudayaan masa lalu lebih canggih dari masa kini?
roket-kartika-1
Kepentingan asing untuk menguasai tanah ini mulai nampak belakangan ini, peristiwa penyadapan Presiden dan Ibu negara hasil bocoran Snowden, yang merupakan simbol negara jelas-jelas menunjukkan siapa sejatinya musuh kita. Ditambah lagi dengan terungkapnya penyadapan terhadap pelanggan Indosat dan Telkomsel oleh Australia dan Amerika, menimbulkan kecurigaan yang sangat besar, ada apakah ini?
Bahkan ada ramalan yang menyatakan bahwa tahun 2014-2017 akan ada goro-goro, yakni peperangan yang amat dasyat antara kebajikan dan kejahatan dan Pulau Jawa adalah medan perangnya, semoga tidak terjadi.
Berkas:Klewang solopos.jpg
Antisipasi Pemerintah Indonesia yang dinahkodai oleh Presiden SBY dengan merapatkan barisan, memperkuat nasionalisme dan yang pasti memperkuat otot-otot TNI di tiga matra yakni darat, laut dan udara. Berbagai alutsista canggih dari dalam dan luar negeri silih berganti datang beriringan dalam jumlah yang fantastis  dari alutsista tergahar dengan derasnya dibeli, meskipun yang diekspos hanya sedikit. matra udara diisi dari pesawat tempur The Flanker Family, Rafale, Typhoon, Grippen, F-Series, pembom Tupolev family telah dan terus berdatangan diback up dengan S300, S400, DF21, Patriot termasuk didalamnya. Matra laut diisi Kapal Induk, LHD, Kapal Selam Nuklir, diesel elektrik, Destroyer, Frigate, Korvet ditambah Rudal Klub S, SLBM dan tentunya pesawat tempur dan helikopter sebagai pengawalnya. Matra darat dengan menambah ribuan MBT dari Leopard, T90S, Chalengger, mediumnya dari Pindad hasil kerjasama dengan Turki, Marder dibantu juga penambahan panser, APC, serta rudal jelajah antar benua (ICBM). Satelit Militer, Radar militer, Klewang, Bango, Srikandi, pembentukan Pasukan Cyber, Pembentukan detasemen-detasemen baru ini memperkuat analisa bahwa perang yang tak terhindarkan ini sudah diantisipasi. 
Harus diingat bahwa tahun 2014 akan dibentuk empat Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) yakni Kogabwilhan Barat berpusat di Sumatra, Kogabwilhan Tengah yaitu Kalimantan dan Sulawesi, Kogabwilhan Timur yakni Papua, Maluku dan Nusa Tenggara, serta Kogabwilhan Utama yakni Pulau Jawa dan Bali. Semua alutsista ini dibagi untuk semua Kogabwilhan, dan Jawa memang yang terkuat dan terbanyak mengikuti jumlah penduduk yang harus dilindungi. 
Memang Australia, Singapura dan Papua Nugini serta malaysiapun jika mengeroyok Indonesia bukanlah lawan yang sepadan buat Indonesia, kekuatan militer mereka berempatpun jika digabungkan tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan TNI baik kulitas dan kuantitas personelnya, alutsistanya maupun manajemennya. Tetapi yang patut dicermati adalah kekuatan dibelakangnya yakni Amerika Serikat dan kroni-kroninya. China dan mungkin pula Rusia yang notabene adalah kawan karib selama ini bisa saja dimasa depan menjadi musuh, dimana di dunia ini tidak ada kawan sejati yang ada hanya kepentingan abadi, maka perkuatan militer ini adalah pencegah dari penyakit yang akan timbul dimasa depan. Jangan takut, jangan bimbang, jangan pula jadi pengecut atau bahkan pengkhianat bangsa, percayalah Bangsa Indonesia ditakdirkan jadi Bangsa besar melebihi bangsa-bangsa lain sejak awal mula peradaban. NKRI harga mati!

Senin, 24 Februari 2014

100 Dassault Rafale Segera Menyusul

Militer Indonesia-Tahun 2014 merupakan momen yang tak dapat dilupakan bagi seluruh rakyat Indonesia, berbagai peristiwa, hajatan, terus terjadi dari awal tahun hingga penghujung tahun. Dari memanasnya hubungan RI dengan Australia, Singapura dan terakhir Papua Nugini serta memanasnya situasi Laut China Selatan (LCS) dimana Natuna masuk dalam klaim wilayah negeri panda tersebut. Indonesia seolah-oleh terjepit diantara dua blok yakni blok barat dan blok timur, seolah-olah tiada teman yang sejati, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
Penguatan daya tawar, diplomasi, haruslah selaras dengan perkuatan ekonomi, budaya, demokrasi, dan  jati diri terlebih perkuatan militer sebagai ujung tombaknya. Jikalau militer kuat tentulah tidak ada negara manapun yang akan mengintervensi setiap kebijakan yang ditempuh pemerintah baik yang berhubungan dengan kepentingan rakyatnya maupun kepentingan masyarakat global. Maka ketika itu diwujudkan dalam bentuk pembelian alutsista bukanlah pemborosan namun sebagai upaya pemerintah untuk menjaga generasi ini dan generasi yang akan datang tetap utuh, dalam bingkai NKRI yang adil dan makmur tentunya.
FRANCE-DEFENCE-DASSAULT
Tanggal 10 Pebruari  dilakukan kunjungan ke pabrik pembuatan pesawat Dassault Rafale di Merignac, Bordeaux, Perancis oleh tim dari Kemenham dan TNI AU untuk memastikan pengiriman dan kesiapan pilot-pilot yang mengawakinya. Dimungkinkan Indonesia akan menjadi pemilik pertama diluar Perancis yang akan memiliki pesawat tempur ini setelah India gagal menyepakati mengenai pengiriman 126 pesawat dengan rincian 18 pesawat akan dibuat di Perancis dan 108 pesawat akan diproduksi oleh HAL (Hindustan Aeronautics Ltd) seperti dilansir defensenews.

3-View
Dassault RafaleA three-view drawing (1638 x 924)

Specification
 MODELRafale C
 ENGINE2 x SNECMA M88-2 turbofans, 7500kg
 WEIGHTS
    Take-off weight19500 kg42990 lb
    Empty weight9060 kg19974 lb
 DIMENSIONS
    Wingspan10.9 m36 ft 9 in
    Length15.3 m50 ft 2 in
    Height5.34 m18 ft 6 in
 PERFORMANCE
    Max. speed2070 km/h1286 mph
 ARMAMENT1 x 30mm cannon, bombs and missiles on 14 hardpoints

Kemampuan Rafale setara dengan Su 35Si yang telah dimiliki Indonesia, sehingga tidak berlebihan jika pemerintah dalam hal ini TNI AU berusaha memiliki 100 pesawat, mengingat luasnya wilayah nusantara. Dalam simulasi dengan Su 35Si hanya Dasault Rafale yang mampu menghindar dari jamming dan rudal-rudal The Flanker ini. Sebuah keuntungan bagi Indonesia yang saat ini memerlukan pesawat tempur kelas berat mendampingi Su 35Si, sehingga TNI AU tidak akan kesulitan untuk menangkal setiap ancaman khususnya ancaman dari udara. Kita tunggu saja.


Kamis, 20 Februari 2014

Revisi Daftar Hibah dan Belanja Alutsista TNI dari Amerika Serikat


Updated as of 4 February 2014:
- Grant/Hibah:
1. 24 AH-64D Apache Longbow fully armed (part of 48 Apache Guardian FMS programme)
2. 36 F-16C Block 25+ Fighting Falcon (upgraded to baseline 32)
3. 7 Oliver Hazard Perry frigates (ex mothball fleet, will be equipped with SM-1 Standard SAM)
4. 3 LHD Tarawa class
4. 36 F/A-18C/D Hornet (ex US Navy + USMC)
5. 28 C-130H-30 Hercules (as part of 16 C-130J Hercules FMS programme, if realized).
6. 24-36 UH-60 Blackhawk (part of 48 Apache Guardian FMS programme, ex USArmy Reserve)
7. 24 CH-46 Sea Knight
8. 160 M-198 155 mm howitzer system
9. 80 M-2/M-3 Bradley IFV
10. 220 M113 APC
11. 400-500 Humvee tactical vehicles.

- FMS progrramme/list belanja
1. 36 F-16C Block 52 Fighting Falcon (equipped with AIM-9X + AIM-120D+JDAM+JSOW)
2. 14-20 F-35A Lightning II (taken from IOC USAF units)
3. 48 AH-64E Apache Guardian
3. 4 Arleigh Burke Flight IA destroyer
4. 16-24 CH-47 Chinook
5. 40 HiMARS
6. Additional 600 Javelin units
7. 60 batteries of PAC-3 Patriot
8. 24 MV-22 Ospreys (taken from 1st Div USMC support wing)
9. 12 P-3C Orion ex US Navy reserve units.
Image

Kisah Cinta Segitiga Akula, Borey dan Bulava TNI AL

Peluncuran Bulava SLBM
Militer Indonesia-Bulan Desember 2011 Kementrian Pertahanan RI (Kemenhan) mengirimkan tim ke Rusia untuk menjajaki pengadaan kapal selam dan kapal permukaan mengingat ancaman yang makin nyata. Tim yang terdiri dari Kemenhan dan TNI AL  mengunjungi Armada Utara Rusia yang salah satunya memilih kapal selam penerus Kiloklav yang telah bergabung sebelumnya. Pilihannya minimal sekelas Astute mengingat Australia akan segera mengganti Collins class dengan kapal selam nuklir. Pilihannya adalah Akula (project 941) dan Borey (Project 955) yang mampu menggotong Rudal Bulava SLBM (Submarine Launched Ballistic Missile) yang merupakan pengembangan dari Rudal Bulava ICBM (Inter Continental Ballistic Missile). Pada saat yang sama Rusia sedang menguji coba rudal balistik antar benua yang diluncurkan dari kapal selam (submarine launched ballistic missile/SLBM) Bulava, Jumat (23/12/2011). Ini adalah uji peluncuran ke-18 yang diumumkan resmi oleh pihak Rusia.
File:Typhoon3.jpg
Juru bicara Kementerian Pertahananan Rusia, Kolonel Igor Konashenkov, mengatakan, rudal tersebut diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir kelas Borey, Yury Dolgoruky, dari Laut Putih, Rusia barat laut, dan berhasil mengenai sasaran di Kura, Semenanjung Kamchatka di tepi Samudera Pasifik, yang berjarak sekitar 6.000 kilometer.
File: K-535 Yuri Dolgorukiy di trials.jpg laut
Rudal Bulava (SS-NX30) bisa membawa 10 hulu ledak nuklir yang bisa diprogram untuk mengenai sasaran yang berbeda-beda dan memiliki daya jelajah lebih dari 8.000 kilometer. Rudal balistik dengan roket tiga tingkat ini dirancang khusus untuk ditembakkan dari kapal selam kelas Borey.
File:Bulava.png
Diperkirakan pada Latgab di bulan Maret-April 2014 nanti, ketiganya sudah melengkapi arsenal TNI AL dan yang pasti tidak akan di publish.

Selasa, 18 Februari 2014

Pembom Strategis Tu-160 Blackjack, Silakan Masuk!

Tu-160 strategic bomber
Militer Indonesia-Hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga dekat di seputaran Asia Pasifik makin renggang, diawali dengan peristiwa penyadapan dan kebijakan masalah pencari suaka oleh Australia, kemudian penyadapan dan protes pemberian nama KRI Usman Harun oleh Singapura serta Pembakaran perahu nelayan oleh Tentara Papua Nugini. Meskipun sudah dapat ditebak bahwa negara-negara ini hanyalah boneka-boneka, dimana aktor dibaliknya adalah Amerika Serikat.
Rusia Tu-160 Bomber Strategis
Amerika memiliki agenda tersembunyi diantaranya memancing kemarahan Pemerintah Indonesia sehingga melakukan blunder dengan menyerang negara-negara tersebut. Ini akan memancing reaksi internasional untuk kemudian melalui Resolusi PBB dapat melakukan intervensi militer gabungan oleh NATO yang sebenarnya sebagai pintu masuk balkanisasi di bumi pertiwi ini.

Berbagai skenario terburuk sudah diantisipasi oleh Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan SBY, berbagai alutsista gahar telah, akan dan terus didatangkan dari dalam dan luar negeri, terutama dari sahabat sejati yaitu Rusia. Dukungan terhadap Indonesia telah diungkapkan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan sahabat rusia dan akan membela dan melindungi Indonesia melebihi sekutu-sekutu mereka termasuk dalam hal pasokan alutsista yang setara dengan Rusia itu sendiri.
Satu diantaranya yaitu Tupolev 160 (Tu-160) Blackjack, yang masih berada di Rusia dan hanya datang ketika Indonesia diserang oleh negara lain.

Specs :-
 

Wingspan (Fully Swept)35.6m
                 (Intermediate Sweep)50.7m
                 (Fully Forward) 55.7m
Length54.1m
Height13.2
Max Takeoff weight275,000kg
Fuel Weight140,600kg
Max Weapon Load 22,400kg
Max Permitted Weapon Load45,000kg
Max Speed at 13000m (wing 65deg) with afterburner2,200km/h
Max Mach Number2
Service Ceiling15,000m
Max range at 275,000Kg12,300Km
Flight Duration 15 hrs
Rate of Climb60-70 m/sec

Namun, tidak menutup kemungkinan sudah datang atau akan datang walaupun tidak dipublikasikan untuk umum, why not?

Jumat, 14 Februari 2014

Untung Rugi Hibah F-15 Eagle dan F-18C/D Hornet Bekas Pakai USAF

F-18

Militer Indonesia-Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, mengatakan siap menerima kunjungan Menlu Amerika Serikat, John Kerry, pada Senin 17 Februari 2014. Dalam kunjungan tersebut, dua nota kesepahaman (MoU) siap ditandandatangani kedua menlu. Kunjungan Kerry kali ini, ujar Marty, merupakan kali kedua dia ke Indonesia. Sebelumnya, Kerry sudah pernah ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan APEC di Nusa Dua, Bali, pada Oktober 2013. Kerry dijadwalkan tiba di Indonesia pada Sabtu, 15 Februari 2014. 
Menlu Marty Natalegawa dan Menlu AS John Kerry
Di Jakarta, Kerry akan menegaskan dukungan AS atas meningkatnya kepemimpinan Indonesia atas tantangan-tantangan global. Kerry juga akan menindaklanjuti kerjasama AS dan Indonesia atas beberapa isu seperti perubahan iklim, keamanan, demokrasi, integrasi kawasan, dan hak asasi manusia. 
MoU ini diperkirakan termasuk penawaran hibah Pesawat Tempur Berat yaitu F15 dan F18 bekas pakai Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dengan upgrade dan persenjataannya. Jumlahnya tidak lebih dari 2 skadron untuk masing-masing tipe, dan penempatannya di proyeksikan di utara yakni Aceh, Kalimantan dan Maluku. 
Bila dikaji lebih rinci, ini menimbulkan kekawatiran dikalangan TNI AU sebagai user, dimana pengalaman Indonesia pernah mengalami embargo militer dari Amerika Serikat untuk pesawat Tempur F5, F16 dan pesawat angkut berat C-130 Hercules untuk maintenance dan suku cadangnya. Meskipun tahun 2005 telah dicabut embargo ini, Pemerintah Indonesia jelas berpikir ulang untuk menerima tawaran ini. Terlebih banyak persyaratan yang diajukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terutama penguasaan tambang-tambang, terutama kelanjutan Freeport di Papua, Exxon Mobile dan terakhir adalah akses tak terbatas di Gunung Padang. 
Semoga pemimpin negeri ini mampu bertindak cerdik layaknya 'si kancil' yang mampu mengecoh lawan yang sangar dengan taktiknya, dan itu semua demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Semoga.

Kamis, 13 Februari 2014

Mengenal Euro Fighter Thypoon TNI AU

Kepemilikan pesawat tempur EF Thypoon oleh TNI AU seperti halnya berita mengenai kepemilikan Militer Indonesia-kapal selam nuklir HMS Astute oleh TNI AL, menimbulkan banyak perdebatan dikalangan grass road. Sejak tahun 2011, TNI AU telah kedatangan pesawat ini sebanyak 1 skadron, yang merupakan pesawat bekas pakai AU Jerman. Kemudian akan berdatangan lagi, namun dengan kondisi yang baru ditahun setelahnya. Penempatannya tidak pernah dipublikasikan, namun pernah diujicoba di langit Pulau Jawa dengan lawan tanding Heavy Fighter TNI AU yaitu The Flanker Sukhoi yang merupakan lawan sepadan dari blok yang berbeda. 

The Eurofighter Typhoon - Sejarah Singkat


Asal-usul dari RAF Typhoon terletak pada persyaratan AST.396 awal tahun tujuh puluhan untuk serangan darat cahaya tempur STOVL dimaksudkan untuk menggantikan Jaguar dan Harrier. Persyaratan ini ditinggalkan demi spesifikasi AST.403 untuk tempur multirole dengan kemampuan serupa dengan AS F-16 dan F/A-18 muncul. Persyaratan STOVL segera menghilang karena baik Jerman maupun Perancis melihat kebutuhan tersebut dan mereka adalah mitra yang paling mungkin bekerja sama untuk sebuah proyek terlalu besar bagi industri Inggris untuk mengatasi sendiri. Tujuannya sehingga menjadi penggantian RAF Jaguar dan Phantom FGR.2. Dengan Jerman mencari pengganti F/RF-4F/E yang sangat lincah, dan Perancis mencari pengganti Jaguar, AST.414 diciptakan.
The European Combat Aircraft (ECA) kelompok studi dibentuk, dan dengan 1979 proposal BAe-MBB bersama untuk Combat Fighter Eropa (ECF) disajikan. Dengan Dassault bergabung dengan konsorsium BAe-MBB, kembar delta canard mesin disepakati sebagai konfigurasi disukai. Pada 1981 ECF runtuh, karena Perancis ingin seorang pejuang cukup kecil untuk beroperasi dari kapal induk mereka.
Bersamaan produsen nasional bekerja pada studi mereka sendiri, BAe P.110 tersebut, MBB TKF-90 dan Dassault ACX (Rafale yang menjadi).
Pada April 1982 sebuah tim baru dibentuk yang terdiri dari mantan pemain Panavia Tornado, dan studi desain yang masih digabung ke dalam Agile Combat Aircraft (ACA). Untuk membuktikan konsep yang diusulkan dalam ACA, Inggris mendanai Program Pesawat Eksperimental (EAP), kedua pemerintah lainnya tidak datang ke pesta. Didukung oleh dana dari pemerintah Inggris dan dana industri dari ketiga negara, EAP pertama terbang pada bulan Agustus, 1986. EAP demonstran terbang sampai tahun 1991, penebangan 191,3 jam dari total waktu penerbangan.
Angkatan udara Eropa terus menunjukkan minat dalam ide desain Eropa umum, dan pada akhir tahun 1983 persyaratan umum Eropa untuk Masa Depan Eropa Fighter Aircraft (FEFA segera berubah ke EFA) didefinisikan dengan Inggris, Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol berpartisipasi. The EFA adalah untuk menjadi mesin kembar yang sangat tangkas, tempur kursi tunggal dengan kemampuan STOL. Perannya adalah untuk menjadi BVR kontra pertempuran udara, jarak pendek superioritas udara di atas medan perang, sementara kemampuan serangan terhormat akan disediakan.
Pengaruh periode yang cukup jelas. Soviet tangkas Su-27S dan MiG-29, selama apa yang menjadi lonjakan akhir mereka dalam perlombaan senjata Perang Dingin. Pertahanan udara BVR Eropa dan superioritas udara bergantung pada ketersediaan USAF F-15As berbasis di Jerman dan Belanda, sementara sebagian besar angkatan udara Eropa menerbangkan lincah tapi hari-VFR F-16A. Jerman dan Inggris terbang lelah F-4s berbagai vintages, dan Perancis Mirage F.1 dan 2000. The FEFA mencerminkan tekanan ini, dan jelas dimaksudkan untuk memberikan BVR pengganti mampu Eropa yang lebih kecil dan lebih murah untuk kemudian mahal F-15, dalam jumlah yang kompetitif dengan F-16, dengan kemampuan multirole cukup untuk mendukung aset pemogokan berdedikasi dalam NATO vs Warpac kontingensi.
Itu adalah solusi Eropa untuk skenario Eropa. Perbandingan terdekat seri remaja akan menjadi kelas multirole fighter F/A-18 dengan kemampuan BVR dan kelincahan dari F-15.The USAF diganti Phantoms mereka dengan mulai semakin lama, tangkas BVR F-15, sedangkan USN diganti dengan mereka yang lebih kecil dan lebih ringan F/A-18, mengorbankan akhir atas kinerja BVR mendukung angka dan kemampuan pemogokan. RAF dan Luftwaffe, para pemimpin di EFA, digulung setara dengan USAF dan USN phantom pengganti ke dalam badan pesawat berukuran tunggal F/A-18.
Pertanyaan pengamat Australia mungkin bertanya mengapa tidak membeli campuran F-15s dan F/A-18s off-the-shelf? Ini akan pernah terpikirkan ke Eropa karena mereka akan kehilangan keahlian desain dan manufaktur dasar Eurofighter dijanjikan, serta investasi besar-besaran pada saat itu tenggelam ke dalam program, basis produksi dibangun untuk Panavia Tornado, dan mengakui pejuang masa depan pasar ke AS.
Pada tahun 1984 divisi yang masih ada antara Prancis dan pemain yang tersisa muncul lagi, lebih kompatibilitas operator. The French menginginkan 19.000 pesawat lb (antara F-16 dan F/A-18) dan Inggris yang 24.255 pesawat lb (berat kelas F/A-18 kosong). Kompromi 21.000 lb berat disepakati. Perancis juga mencari desain kepemimpinan, 50% dari total workshare kontrol perusahaan payung dan ekspor. Sebuah perpecahan muncul antara Perancis dan pemain lain dan EFA runtuh.
Agustus 1985 melihat Inggris, Jerman dan Italia memutuskan untuk menghidupkan kembali program dan Spanyol dan Perancis diundang untuk bergabung. Spanyol memang, Perancis pergi solo dengan Rafale. Pada bulan Juni 1986 perusahaan Eurofighter Jagdflugzeug GmbH dibentuk, dan pada bulan September 1986, Eurojet Turbo GmbH dibentuk untuk merancang dan membangun mesin. The ECR-90 radar diberikan kepada GEC Ferranti di Inggris.
Persyaratan RAF EFA adalah SRA.414, yang berusaha kembar ringan turbofan BVR dan dekat tempur tempur, dengan kemampuan serangan sekunder. RAF dicari 250 pesawat, Luftwaffe 250, 165 Italia dan Spanyol 100.
The EFA dalam kesulitan lagi pada tahun 1992, di bawah ancaman dari "perdamaian "harapan parlemen Eropa. Jerman mengancam akan menarik keluar sama sekali, setelah awalnya memotong nomor ke 140, sementara Italia dan Spanyol mengurangi ukuran membeli mereka direncanakan. Setelah banyak pertengkaran politik, program selamat dengan revisi membangun angka, tetapi penundaan serius yang terjadi.
Laporan menunjukkan bahwa F-22 diusulkan ke Inggris, sebuah fakta sejarah yang akan menjelaskan fiksasi aneh pada membandingkan EFA ke F-22 dalam banyak literatur pemasaran. Perbandingan itu penasaran dalam arti bahwa EFA konseptual sebuah evolusi dalam paradigma seri remaja tempur, sedangkan F-22 menggabungkan berkelanjutan supercruising mesin dan Sangat Rendah diamati (stealth), sehingga mewakili paradigma yang sama sekali baru.
Prototipe pertama Eurofighter 2000 DA.1 terbang dari fasilitas DASA Manching Maret 1994.


The Eurofighter Typhoon - Sebuah Ringkasan Teknis


The Typhoon menggunakan konfigurasi canard delta dikombinasikan dengan area sayap mirip dengan F-15, dan kapasitas bahan bakar internal yang sama, namun pesawat memiliki berat kosong sekitar £ 24.250, seperti model akhir F/A-18C. Berat kosong yang sangat baik dari Typhoon dalam kaitannya dengan ukuran sayap adalah sebanyak hasil dari konfigurasi kompak, karena penggunaan murah hati komposit serat karbon di badan pesawat dan sayap pesawat. Canards Titanium dan permukaan kontrol luar, dan tepi terkemuka paduan Aluminium Lithium yang digunakan untuk mengurangi berat badan belum mencapai kekuatan struktural yang tinggi.
Gabungan konfigurasi canard delta dan 538 ft 2 ukuran sayap berunding sangat rendah sayap pembebanan pada bahan bakar internal 50%, dan dioptimalkan untuk manuver transonik dan kinerja dasbor supersonik. Kombinasi sudut menyapu dan gigi belakang tidak stabil jelas dimaksudkan untuk meminimalkan drag supersonik, dan sebanding dengan pencegat supersonik klasik seperti seri Mirage, tapi lebih sederhana daripada "supercruiser "72 ° menyapu bagian sayap kapal dari F-16XL / E.
Topan tersebut tidak mungkin untuk mencocokkan supersonik G amplop tinggi F-16XL / E karena lebih rendah sudut sayap menyapu, tetapi akan memiliki keuntungan yang berguna atas sebagian besar jenis seri remaja / teenski dioptimalkan untuk balik transonik. Dalam manuver transonik, otomatis penuh rentang bilah terdepan yang digunakan untuk mengatur camber sayap dan karenanya mengurangi angkat induced drag di G karakteristik tinggi delta klasik dalam rezim ini. Generator pesawat vortex di kedua sisi kokpit yang digunakan untuk mempromosikan pembentukan vortex pada AoA tinggi dan kecepatan rendah, dan dengan demikian meningkatkan angkat.
Inlet dipasangkan dioptimalkan untuk kinerja AoA tinggi, menggunakan aliran forebody untuk mempromosikan konsumsi air, serta lapisan splitter batas atas inlet. Kombinasi angkat vortex dan geometri inlet digunakan oleh Topan memanfaatkan ide yang sama yang digunakan dalam F-16A/C/XL/E.
The canard longgar digabungkan dimaksudkan untuk memberikan wewenang kontrol yang tinggi pada sudut tinggi serangan, dengan menempatkan permukaan menjelang vortisitas utama, tetapi juga untuk memberikan tarik memangkas lebih rendah dalam penerbangan supersonik.
Dalam membandingkan Typhoon untuk pejuang ditetapkan, desain aerodinamis memanfaatkan ide-ide dasar yang digunakan dalam F-16 keluarga, tetapi menggabungkan mereka dengan sangat menyapu delta dan konfigurasi canard untuk memperpanjang amplop supersonik, meskipun tidak seagresif GD lakukan dengan 660 ft 2 memutar panah F-16XL / E sayap. Semakin sederhana desain sayap di Typhoon pada gilirannya canards diperlukan untuk mencapai yang diinginkan tarik supersonik dan manuver amplop.
Dari perspektif optimisations badan pesawat, Typhoon adalah tanpa diragukan lagi dioptimalkan untuk dua tujuan desain utama, yang supersonik BVR intersepsi dan dekat dalam pertempuran pada kecepatan transonik, dengan tidak ada konsesi yang jelas dibuat untuk tujuan sekunder mogok. Sayap rendah pemuatan akan memberi kinerja pendakian yang sangat baik untuk dorong diinstal, dan konfigurasi delta tarik supersonik yang lebih rendah, dibandingkan dengan F/A-18 tersebut. Sayap rendah loading tidak optimal untuk profil pemogokan tingkat rendah, namun sensitivitas embusan akan diatasi dengan sudut sapuan besar dan penggunaan stabilitas buatan dan canards. Badan pesawat ini dinilai untuk +9 /-3G pada berat tempur yang dirahasiakan, pylon peringkat G juga belum diungkapkan.
Pesawat ini didukung oleh sepasang Eurojet EJ200 afterburning turbofan, dinilai pada 13.500 lbf kering dan 20.000 lbf dipanaskan di permukaan laut, yang sebanding dengan varian pertumbuhan F/A-18 's GE F404. Rasio 0.4:1 bypass karakteristik mesin tempur modern, dan dioptimalkan untuk kinerja transonik daripada cruise membakar. Eurofighter mengklaim mesin memiliki kemampuan supercruise, meskipun durasi mungkin supercruise belum diungkapkan. Sebagai mesin berteknologi dari generasi yang sama seperti berevolusi mesin seri remaja, harapan bahwa hal itu dapat memberikan jenis kinerja supercruise disediakan oleh unik dirancang powerplants supercruising seperti F119 dan F120 AS sulit untuk menerima.
Dalam konfigurasi tempur OCA / DCA, bersih, pada bahan bakar internal 50% (~ £ 6500), Topan memberikan kering rasio dorong / berat permukaan laut nominal 0.82:1 dan dipanaskan rasio dorong / berat 1.22:1 dengan sayap pemuatan 60,8 lb / ft 2 . Keduanya berada di kelas F-15A / C, F-16A / C, MiG-29 dan Su-27SK.
Pesawat menggunakan sistem kontrol penerbangan digital quadruply berlebihan dimaksudkan untuk memberikan penanganan riang, yang terakhir kemajuan atas seri remaja, dan dalam banyak hal kebutuhan yang diberikan lapangan konfigurasi aerodinamis inheren tidak stabil.
Seorang pilot F/A-18 berpengalaman yang menerbangkan simulator Typhoon berkomentar kepada penulis bahwa manuver / penanganan kinerja pesawat tampaknya tidak menjadi perbaikan dramatis atas F/A-18, dan otoritas kemudi pada tinggi AoA tidak sesuai F/A-18.Namun itu adalah mungkin bahwa penyempurnaan lebih lanjut dari perangkat lunak kontrol penerbangan bisa menghasilkan perbaikan penanganan sejak pertengahan tahun sembilan puluhan.
Kesan keseluruhan yang dihasilkan dari kajian konfigurasi dasar pesawat, penggerak dan bahan bakar paket dari pesawat tempur F-15 kelas transonik dan kelincahan supersonik pada berat badan yang optimal, kinerja manuver sesaat yang sedikit melebihi seri remaja, semua dikemas menjadi F / A badan pesawat berukuran -18 dengan daya dorong diinstal sebanding dengan akhir membangun model F/A-18. Hal ini mencerminkan sangat erat tujuan EFA desain awal.
Paket avionik The Typhoon yang dibangun pada dasarnya atas basis teknologi yang digunakan dalam pesawat tempur seri remaja, tetapi menggunakan tingkat integrasi yang lebih tinggi terhadap didirikan pada layanan jenis seri remaja.
Inti dari paket avionik adalah X-band (I / J-band) ECR-90 pulse-Doppler radar multimode, mirip dalam konsep seri AS Raytheon APG-63/65/70 dan berasal dari Blue Vixen (Harrier FRS.2). Eurofighter mengklaim dua kali kekuatan output dari F/A-18 's APG-65/73 series (output daya khas untuk kelas ini adalah 10 kW puncak), dan dua kali jangkauan deteksi dari F-16 APG-68. Namun, dengan tidak adanya data yang diterbitkan pada ECR-90-an mekanis mengarahkan array planar ukuran aperture, dan peringkat daya puncak, adalah mustahil untuk kokoh memverifikasi pernyataan ini. Radar sering dikreditkan dengan keunggulan jangkauan deteksi atas F-15 itu APG-63/70 seri, kebutuhan untuk tujuan penggunaan ramjet rudal BVR dengan berbagai A-tiang 80 kelas NMI.
Dalam hal mode ECR-90 menggabungkan paket khas kita kenal dengan dalam seri remaja, atau setara. Eurofighter menekankan laju perubahan tegangan yang cepat dari array planar.
Pada saat ini array bertahap aktif, Amsar, adalah pengembangan sebagai upgrade ke ECR-90 dan Rafale itu RBE2 pasif array bertahap. The AMSAR/ECR-90 adalah teknologi dalam kategori yang sama dengan APG-68 ABR (F-16C/B.60) dan APG-73 RUG III. Hal ini diharapkan akan tersedia sekitar tahun 2005, dan akan memberikan seperti ABR dan RUG III meningkatkan kinerja BVR, sidelobes jauh lebih rendah, pencarian dan keterlibatan mode interleaved dan potensi untuk medan interleaved berikut dan mode serangan darat. Amsar menawarkan potensi untuk operasi LPI, tetapi akan memerlukan optimisations desain lebih lanjut dan desain ulang yang mendasar dari banyak bagian akhir ECR-90 kembali.
The ECR-90 dilengkapi dengan dua sensor pasif. The Pilkington Optronics PIRATE pertengahan gelombang IRS & T / FLIR dapat digunakan untuk deteksi, identifikasi dan menghindari medan, dengan delapan mode operasi diskrit. Hal ini terintegrasi dengan fungsi radar dan baik dapat bekerja keras untuk yang lain. Dengan tidak adanya aperture dan detektor data ukuran tidak mungkin untuk memperkirakan jarak efektif dalam kondisi langit yang cerah.
Sebuah ESM diintegrasikan ke dalam Defensive Aids subsistem (DASS), dan dapat digunakan sebagai alat penargetan pasif dalam keterlibatan, selain fungsi dasar sebagai jarak jauh RWR sensitif. Paket-paket antena berada di ujung sayap polong.
Paket DASS bersifat komprehensif, menggabungkan ESM / RWR, Maws a, sektor Laser Warning Receiver maju (RAF), expendables, DECM dan ditarik umpan serat optik. Ini adalah paket yang kompetitif dengan ukuran apa pun, terhadap sezaman AS.
Arsitektur inti avionik didasarkan pada model federasi, menggunakan beberapa bus Mil-Std-1553B, sehingga sebanding teknologi sampai akhir membangun remaja sistem seri.Eurofighter mengklaim penggunaan teknik fusi sensor dalam perangkat lunak sistem, untuk menggabungkan data yang dihasilkan oleh radar, IRS & T dan ESM untuk memberikan kepercayaan yang sangat tinggi dari awal BVR identifikasi sasaran dan keterlibatan.Mengingat daya komputasi secara signifikan tersedia lebih rendah di Typhoon, terhadap Cray CIPS kelas F-22A itu, pernyataan bahwa kemampuan ini adalah kompetitif terhadap software sensor fusi di F-22A yang agak aneh, mengingat bahwa real time sensor fusi adalah komputasi intensif tugas.
Eurofighter mengambil banyak kebanggaan dalam kokpit pesawat, yang menggabungkan HUD hologram, 3 MFDs warna, kontrol HOTAS, dan input suara percontohan untuk memilih mode sistem. Marconi sedang mengembangkan sebuah HMD, yang dimaksudkan untuk memberikan pilot dengan visor proyeksi citra NVG teropong, FLIR / IRS & T citra dan simbologi. Pada data yang tersedia kokpit adalah bagian dari seni, dan jelas sangat kompetitif terhadap setara seri remaja.
Referensi navigasi utama disediakan oleh Litton LN-93EF RLG INS, dilengkapi dengan GPS dan TACAN. A GPWS (prox peringatan ground) dan Microwave Landing System (MLS) digabungkan, mantan untuk membantu dalam operasi tingkat rendah. Pesawat membawa VHF aman dan UHF comm, interogator IFF dan terminal MIDS / JTIS.
Untuk BVR tempur senjata utama Topan akan menjadi Matra BAe-Meteor FMRAAM, sebuah ramjet bertenaga AAM dengan pencari radar berevolusi dari MICA Matra BAe-. Usulan untuk menggunakan berbagai diperpanjang AMRAAM berasal ERAAM, atau turunan ramjet AMRAAM, ditolak demi sebuah AAM sepenuhnya Eropa. The interim BVR senjata akan menjadi US AIM-120B AMRAAM. Sebagian besar sumber kredit FMRAAM dengan 80 NMI kisaran keterlibatan terhadap target penutupan, sekitar 20% lebih baik dari ERAAM tersebut. The FMRAAM adalah untuk berlayar lebih cepat dr Rusia Vympel R-77M Ramjet Adder derivatif. Empat BVR AAMs akan dilakukan di akar sayap sumur semi-konformal.
Untuk close-dalam pertempuran RAF Typhoon akan dipersenjatai dengan AIM-132 ASRAAM, akan segera digunakan pada F/A-18A RAAF + armada. Non-RAF Typhoon akan membawa tunggal Mauser 27 mm meriam, Kementerian Pertahanan telah memutuskan untuk menghapus senjata dari pesawat RAF. Interface senjata yang kompatibel dengan standar Sidewinder dan AMRAAM interface, kemungkinan yang FMRAAM akan menggunakan antarmuka AMRAAM.
Untuk operasi pemogokan, berbagai senjata dapat dilakukan. The primary RAF kebuntuan senjata akan menjadi Matra BAe-Storm Shadow rudal jelajah, berasal dari Apache Prancis, Luftwaffe kemungkinan akan tetap dengan Tornado KEPD-350. Varian dari Paveway bom dipandu laser dapat dilakukan, dengan TIALD FLIR / laser yang pod menempati satu ke depan AAM baik. Untuk close-in tangki penghilang, gelombang milimeter Belerang (AGM-114F Hellfire derivatif) akan digunakan. Kita dapat mengharapkan untuk melihat ALARM Matra BAe-digunakan untuk SEAD oleh RAF, AGM-88 HARM oleh Luftwaffe. Interface Mil-Std-1760 disediakan sebagai pejuang dengan membangun seri remaja saat ini untuk memfasilitasi integrasi senjata baru.
Berbagai macam pilihan yang ada untuk pengangkutan bahan bakar eksternal. Untuk supersonik OCA / DCA tempur, sekitar £ 4500 dapat dibawa dalam akar sayap Konform Tangki Bahan Bakar atas (CFT) dan sekitar £ 1.800 masing-masing dalam sepasang drop tank. Untuk serangan mendadak mogok subsonic, 1.500 L atau 2.000 L penurunan tank dapat dilakukan di samping CFTs.
Literatur pemasaran Eurofighter membuat banyak jarak tempuh dari diklaim "siluman "kemampuan, yang diperoleh dengan menggunakan terowongan inlet S-tikungan dan penerapan selektif bahan penyerap radar. Desain spec diklaim telah mencantumkan batas kinerja RCS.
Penegasan bahwa pesawat memiliki "siluman" kemampuan penasaran dengan ukuran apa pun, karena tidak ada bukti keselarasan planform, panel tepi alignment, pencampuran atau faceting, semua teknik didirikan digunakan dan terbukti pada jenis AS seperti F-117A, B-2A, YF-23A, F-22A dan prototipe JSF. Memang kereta eksternal toko saja akan membuat Topan radar signature setidaknya 10-100 kali lebih besar dari bola golf untuk RCS ukuran serangga kita terbiasa dengan jenis AS. Kecuali orang-orang Eropa telah menciptakan undang-undang baru dari hamburan radar, pesawat adalah yang terbaik tempur konvensional dengan sektor depan berkurang RCS, sebanding dengan berevolusi F/A-18, F-16 varian, Rafale atau B-1B.
Manfaat pengurangan RCS tersebut terbatas marjinal, karena kurva jangkauan deteksi yang cukup curam di wilayah ini dan peningkatan sederhana dalam menentang kinerja radar sebagian besar dapat mengimbangi keuntungan dalam pengurangan RCS tersebut.Sementara setiap dBSM turun berguna, melampaui 0,3 dari satu meter persegi imbalannya dipertanyakan dengan toko eksternal sedang dilakukan. Selain itu, kecuali sebuah radar LPI dilakukan, emisi radar akan mengkhianati tempur untuk lawan dari sumur luar jangkauan radar.
Diterbitkan kinerja jangkauan deteksi untuk NIIP N-011M dan Phazotron Zhuk-Ph (Su-30MK upgrade) dan Agat 9B-1103M/9B-1348E R-77/R-77M pencari akan menunjukkan bahwa Topan sarat dengan toko eksternal bisa berhasil terlibat dalam 50-65 NMI amplop. Oleh karena itu Meteor ramjet AAM sangat penting untuk Topan, karena AMRAAM tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan keunggulan jangkauan sistem senjata BVR.


The Eurofighter Typhoon. Contoh ini diterbangkan oleh 3SQN RAF ( Royal Air Force ).


Apakah Topan Demon atau Lemon?


Mengingat upaya gencar pemasaran konsorsium Eurofighter baik di Eropa dan Australia, dan liputan sering sangat bermusuhan pesawat telah menerima dalam pers internasional, dan lebih jadi Inggris press, itu perlu ditelusuri kekuatan pesawat dan kelemahan terhadap beberapa baseline didirikan.
Kinerja udara Penghitung pesawat dikutip sebagai kekuatan utama, dan sering dikutip sebagai "82% sebagai efektif sebagai F-22 " .
Angka ajaib 82% berasal dari sembilan puluhan pertengahan simulasi DERA terhadap mendalilkan Su-35 ancaman. Jumlah tersebut didasarkan pada metrik yang agak tidak biasa" kemungkinan keterlibatan sukses " di BVR tempur, rating F-22 pada 91%, Topan di 82%, F-15F (single seat E) ​​pada 60%, Rafale sebesar 50% dan F-15C di 43%.
Kemungkinan keterlibatan sukses dapat diterjemahkan ke dalam metrik yang lebih umum digunakan rasio kill dengan membuat beberapa asumsi statistik yang wajar, dan melakukan hal ini menghasilkan sekitar 10.0:1 untuk F-22A, 4.6:1 untuk Topan, 1,5:1 untuk kursi tunggal F-15E, 1:1 untuk Rafale dan 0.75:1 untuk F-15C. Jadi dalam hal yang paling umum digunakan, Typhoon adalah dengan simulasi DERA sekitar setengah pertempuran efektif sebagai F-22A, sekitar tiga kali lebih efektif tempur F-15F, sekitar lima kali lebih efektif sebagai Rafale dan 6 kali efektif sebagai F-15C. Jika kita bandingkan dengan mengutip USAF klaim rating F-22A 10-15 kali lebih efektif tempur F-15C di BVR pertunangan, ini berarti bahwa studi DERA kira-kira setuju dengan penilaian USAF F-22A vs F-15C tempur efektivitas.Asumsi rinci diterapkan pada penelitian ini belum diungkapkan.
Validitas penelitian ini dalam lingkungan hari ini harus dipertanyakan. Sejak penyusunannya Rusia telah mengembangkan NIIP-011M dan Phazotron Zhuk-Ph bertahap array untuk Su-27/30, R-77M ramjet Adder, kisaran diperpanjang R-74 Archer digital, 2D dan 3D dorong vectoring nozzles, lebih tinggi dorong AL-31 derivatif mesin, dan pencari radar aktif untuk R-27 Alamo, serta tangkas varian anti-radiasi dari Alamo. The F-22A kemungkinan akan menembak ERAAM, dan beberapa USAF F-15C milik AU AS sedang dilengkapi dengan array bertahap aktif, dengan prospek kemungkinan mendapatkan ERAAMs juga, atau bahkan varian Ramjet AMRAAM. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa sebagian besar asumsi pendukung yang digunakan dalam penelitian ini sangat basi, jika tidak relevan. Sampai Topan dilengkapi dengan Amsar dan Meteor, diproyeksikan 4.6:1 BVR ratio kill adalah dengan ukuran apa optimis, melawan berevolusi Su-30 varian.
Jelas Typhoon adalah kokoh di BVR lethality kelas F-15C / E, dan pendorong utama efektivitas relatif antara jenis ini akan radar dan rudal kemampuan. Sampai bidang USAF bertahap array dan ERAAM atau ramjet AAMs di seluruh F-15 armada (beberapa pesawat saat ini sedang dipasang dengan APG-63 (V) 3 array bertahap aktif), Topan akan memegang keunggulan yang menentukan. Gelombang panjang IRS & T teknologi AS tersedia off-the-shelf dan akan banyak mengurangi keuntungan yang diberikan oleh PIRATE ke Typhoon.
Pertimbangan penting lainnya dalam BVR tempur transonik dan supersonik percepatan, ketekunan dan berkelanjutan kinerja gilirannya. Sedangkan yang kedua sulit untuk memperkirakan, mantan dapat langsung dibandingkan dengan melihat rasio dorong / berat.
The Typhoon bersih, dengan gas internal yang 50% dan 6-8 AAMs tegas di kelas F100-PW-229 F-15F bertenaga, di dorong kering, dan sekitar 15% di belakang F-15F pada reheat.Dimana Topan jatuh di belakang F-15F adalah ketika jari-jari operasinya ditarik dan gas eksternal tambahan sedang dilakukan. Jika kita mengambil Typhoon dengan 3 x tangki eksternal 1000L, dan F-15F dengan 2 x 600 USG tangki eksternal, kami memiliki konfigurasi yang memberikan daya tahan yang sangat mirip dan radius operasi untuk titik intercept.Dalam situasi yang terakhir, mendekati target, Typhoon adalah sekitar 12% di belakang F-15F di dipanaskan rasio dorong / berat kritis. Jika kita membandingkan Typhoon dengan CFTs, ​​3 x 1000L tangki eksternal terhadap F-15F dengan hanya CFTs, ​​kita mendapatkan kekurangan sekitar 20% pada rasio dorong / berat di samping hukuman drag tangki eksternal. Ini adalah perkiraan yang sangat perkiraan, tidak akuntansi untuk gas tempur, tapi bahkan melakukan simulasi yang sangat akurat akan menghasilkan kesimpulan yang tak terelakkan - seorang pejuang berukuran F/A-18, tidak peduli seberapa tangkas ketika bersih, tidak bisa bersaing dalam rasio dorong / berat dengan F-15 pesawat tempur berukuran di jari-jari diperpanjang operasi.
Argumen bahwa pejuang yang lebih kecil dapat terbang dalam konfigurasi kurang terbebani, dan mengandalkan tanker, mengabaikan kebutuhan gas internal yang cukup untuk aman jika AAR gagal atas air. Dengan cara yang sama, penggunaan mesin EJ200 pertumbuhan dorong lebih tinggi dalam Topan meredakan masalah, tetapi masih akan tetap berada di belakang sebuah F-15F dilengkapi dengan pertumbuhan 32 KLB F100-PW-232 atau yang setara F110 GE varian.
Jelas dalam skenario di mana radius operasi unrefuelled bukanlah masalah besar, Topan adalah pejuang konvensional yang sangat kompetitif, dan melebihi kemampuan F-15 varian tanpa array bertahap dan diperpanjang rentang AAMs. Namun, baru membangun F-15 dengan mesin teknologi saat ini, dan paket AAM AESA / ramjet akan mempertahankan margin kinerja yang sehat bahkan lebih varian pertumbuhan Topan, dan keuntungan radius operasi. Efektivitas relatif kemudian akan mendidih ke isu-isu seperti taktik, dan setiap keuntungan relatif dari AAMs spesifik yang dilakukan dan radar dipasang.
Keunggulan komparatif dari Typhoon atas keluarga Su-27/30 menunjukkan sensitivitas yang mirip dengan upgrade teknologi di pejuang Sukhoi. Dilengkapi dengan array bertahap, gelombang panjang IRS & T, membawa ramjet rudal R-77M, yang didukung oleh SuAWACS, dan menggunakan mesin pertumbuhan kita harus serius mempertanyakan betapa besar margin lethality Topan akan terus melawan pejuang tersebut. The Sukhoi, mau tidak mau, pameran keuntungan rasio dorong / berat sama F-15 tidak diperpanjang dalam pertempuran jarak, yang merupakan tujuan desain untuk jenis seperti itu untuk F-15.
Dalam membandingkan Typhoon terhadap satu-satunya petinju lain di kelas berat, yang F/A-18A/C, manfaat menggunakan teknologi generasi selanjutnya menunjukkan dengan sangat jelas. Topan performanya melebihi F/A-18A/C di BVR kemampuan sistem senjata serta kinerja aerodinamis. Sementara jauh lebih baik daripada F/A-18A/C dalam radius operasi dan kelincahan, radius operasi optimal tidak di kelas F-15 dan Su-27/30.
RAF Eurofighter Typhoon (© 2010, Jeroen Oude Wolbers ).


Kesimpulan


Kesimpulan apa yang dapat kita tarik tentang Typhoon? Gagasan bahwa pesawat adalah"hampir sama baiknya sebagai F-22 " tidak dukung, memang upgrade F-15 dengan mesin dan / paket AAM radar / IRS & T dari generasi yang sama seperti yang dilakukan oleh Topan akan menyamakan hampir semua keuntungan dipegang oleh Typhoon lebih tua varian F-15C / E. Dengan cara yang sama, tidak ada upgrade yang dilakukan pada F/A-18A/C akan menyamakan keunggulan kinerja Typhoon atas pesawat ini.
Kekuatan Topan adalah paket avionik sangat modern dan komprehensif, terutama dalam varian RAF, dan kelincahan yang sangat baik ketika dioperasikan sekitar radius tempur optimum sekitar 300 NMI (seorang tokoh dapat ditemukan dalam literatur Eurofighter lebih tua, yang sejak menghilang dengan dorongan ekspor untuk bersaing dengan yang lebih besar F-15 dan F-22).
Kelemahan The Typhoon adalah berat kelas F/A-18C dan dorong dan implikasi dari ini dalam pertempuran di jari-jari operasional diperpanjang, dan sensitivitas jangka panjang keuntungan senjata BVR untuk perkembangan teknologi setara dalam menentang pejuang.
Dalam hal dimana posisi Topan di kebun binatang saat ini pesawat tempur, yang dapat digambarkan sebagai F/A-18C berukuran fighter dengan sistem BVR dan kinerja kelincahan yang lebih baik daripada yang lebih tua F-15 model, mirip dengan pertumbuhan F-15 model dengan sistem yang sama generasi dan mesin, namun kalah dengan F-15 dalam radius operasi berguna. Topan ini bukan pesawat siluman, meskipun berbagai pernyataan untuk efek ini, juga bukan supercruiser asli seperti F-22. Desainnya menggabungkan tidak ada fitur yang terlihat pada jenis diamati sangat rendah, juga tidak EJ200 yang menggabungkan fitur desain yang unik dari F119 dan F120 powerplants.

Topan ini tentu bukan lemon, meskipun kebijaksanaan massa memproduksi pejuang konvensional kinerja tinggi sejenisnya dalam periode di mana siluman adalah untuk memukul produksi massal dalam program JSF F-22 dan bisa dipertanyakan secara serius. Ini merupakan apa yang mungkin menjadi langkah evolusi besar terakhir dalam filosofi desain seri remaja.

Minggu, 09 Februari 2014

SHOPPING LIST OF INDONESIAN AIR FORCE, NAVY & ARMY

Air Force:
1. Su-35SI Super Flanker : 64-O, 16-D2014, 24-D2015, 24-D2016
2. JAS-39 Gripen NG: 44-O, 14-D2014 (leased scheme), 8-D2014 (first batch delivery) 18-D2015, 18-D2016
3. EF Typhoon: 36-O, 12-D2014 (ex Luftwaffe), 10-D2015 (brand new), 14-D2016.
4. Su-34 Fullback: 48-O, 8-D2014, 12-D2015, 14-D2016, 14-D2017 (note: batch 1+2 derived from VVS-RF units)5. Erieye: 10-O, 3-D2014, 3-D2015, 4-D2016 (possible order extension into 14 units)

Note:
1.item #3 pending British approval for technology transfer scheme on certain parts, financing scheme, and acquisition of MBDA Meteor missiles.
2. item #2: possible scenario of integrating leased units from Swedish Air Force as part of acquisition scheme, thus increasing actual figure to 58 units.
3. item #1: including upgrade package on EW, radar, and integration systems into current Indonesian Air Defense Ground Environment frameworks.
4. item #4: including upgrade package on EW, radar, ASW sensors, and long range "tactical missiles".

Navy:
1. Slava class heavy cruiser: 1-O, 1-D2016
2. Sovremenny class destroyer: 5-O, 2-D2014, 1-D2015, 
2-D2016.3. Talwar class frigate: 4-O, 1-D2016, 2-D2017, 1-D2018
4. Stereguschyy class corvette: 7-O, 2-D2015, 2-D2016, 2-D2017, 1-2018
5. F122 Bremen class frigate: 4-O, 1-D2014, 2-D2015, 1-D2016.
6. De Zeven Provincien frigate: 6-O, 2-D2016, 2-D2017, 2-D2018.
7. Sigma class corvette/light frigate variant: 22-O, delivery scheme being finalised.
8. Astute class SSN: 2-O, 1-D2015, 1-D2017
9. Kilo class 877EKM SSK: 10-O, 4-D2014, 4-D2015, 2-D2016
10. Amur 950 class SSK: 6-O, 2-D2015, 2-D2016, 2-D2017
11. U212 class SSK: 9-O, 1-D2014, 2-D2015, 2-D2016, 2-2018, 2-2019

Note:
1. Type 23 Duke class frigate acquisition scheme being finalised, possible 5 existing units will be transferred to Indonesian Navy. All will be equipped with air defines upgrade package which includes Sea Captor VLS missiles system.
2. item #1: utilizing hull of incomplete unit being stored in Ukraine, will be equipped with combination of SS-N-12 Sandbox/SS-N-27 Sizzler SSM, upgraded SA-N-20 Rif M/Gargoyle SAM systems, new phased array PESA radar.3.item #3: using same configuration of Indian Navy's variant, except for BrahMos substitute for Yakhont system. 

Army:1. PzH2000 self propelled gun 155mm : 88-O, possibly extension up to 130 units2. Lepoard 2 RI: 350-O (upgrade package installed on Deutsches Heer surplus of 2A6)3. Marder 1A3; 140-O4. AH-64D/E: Apache Longbow/Guardian: 40-O.5. Caesar self propelled gun 155 mm: 160-O6. Astross II: 48-O7. UH-60 Blackhawk: 40-O (ex US Army Reserve units)8. S-300PMU2 / SA-20 Gargoyle: 36-O (batteries, comprised of 5 TELAR vehicles, 1 C&C vehicle, 3 radars and sensors vehicles, 4 reload/resupply vehicle).9. HQ-16 SAM systems: 74-O (details to be confirmed).10. Starstreak VSHORAD: 220-O11. SS-N-27 Sizzler/Yakhont coastal defense platform: 60-O12. KH-78/79 field artillery systems: 360-O.13. Rail based strategic weapons systems: 24-O


Selasa, 04 Februari 2014

8 Frigate Bremen Class Perkuat TNI AL


Militer Indonesia-Kedekatan Indonesia dengan Jerman terutama dibidang militer tidak diragukan lagi, semenjak jaman Suharto hingga kini jaman SBY hubungan itu makin mesra. Setelah pembelian MBT Leopard 2A7, Marder, KS U214s ternyata masih berlanjut dengan pembelian kapal fregate dari Bremen Class sebanyak 8 unit, dimana unit ini telah dan akan dipensiunkan dari layanan oleh Angkatan Laut Jerman. Kapal dengan nomor lambung F 207, F 208, F 209, F 210, F 211, F 212, F 213, dan F 214 ini rupanya akan dibagi rata 4 Kogabwilhan yang akan segera dibentuk, sehingga masing-masing Kogabwilhan akan mendapat jatah 2 Kapal Frigate dari Bremen Class. 


Angkatan Laut Jerman memiliki delapan frigat Kelas Bremen dirancang dan dibangun oleh Bremer Vulkan pada 1980-an . Peran utama kapal adalah untuk operasi di dalam NATO dan pasukan tugas Jerman . Kapal ini dirancang terutama untuk misi perang anti - permukaan dengan anti - udara yang kuat dan kemampuan perang anti - kapal selam .
Yang pertama dari kelas , Bremen ( F207 ) , ditugaskan pada tahun 1982 , Niedersachsen ( F 208 ) pada tahun 1982 , Rheinland - Pfalz ( F 209 ) pada tahun 1983 ; Emden ( F 210 ) pada tahun 1983 ; Koln ( F 211 ) pada tahun 1984 ; Karlsruhe ( F 212 ) pada tahun 1984 ; Augsburg ( F213 ) pada tahun 1989 dan Lubeck ( F214 ) pada tahun 1990 .
Penerus kelas Bremen adalah kelas F125 Baden - Württemberg 
.

Komando dan kontrol
Sistem tempur kapal mengintegrasikan fungsi target akuisisi , navigasi, komunikasi , pemrosesan sinyal dan kontrol senjata . Sistem tempur lunak dikembangkan oleh ATLAS Elektronik .
Sistem tempur komputer pusat menghitung dan mengevaluasi data target dan mengalokasikan data ke sistem senjata . Sistem ini melakukan beberapa pencarian target dan track , sasaran prioritas dan keterlibatan otomatis senjata .
Angkatan Laut Jerman memulai program upgrade untuk sistem tempur di delapan kelas Bremen ( F122 ) dan empat frigat Brandenburg . Sebuah kontrak telah diberikan kepada Thales pada bulan September 2005 untuk menyediakan sistem arsitektur terbuka baru untuk menggantikan Satir . Upgrade selesai pada 2011 . IBM disediakan dan diinstal Link 16 kemampuan peningkatan dan juga menginstal sistem distribusi informasi multifungsi EADS Defence Electronics ( MIDS ) .

The bridge layout of the Bremen Class (F122) Frigates

Rudal
Bremen memiliki dua empat - sel Boeing Harpoon peluncur rudal . Harpoon ( RGM - 84 ) adalah rudal anti - permukaan , dengan aktif radar seeker dan jangkauan 130 km .
Sistem pertahanan Intinya kapal didasarkan pada jarak menengah NATO Sea Sparrow dan RAM jarak pendek (rolling airframe ) rudal . The Sea Sparrow permukaan - ke-udara rudal diluncurkan dari dua mk29 peluncur delapan - sel berdampingan dipasang di depan kapal , di atas dan di belakang pistol Otobreda . RAM ( RIM - 116A ) , yang disediakan oleh Raytheon dan RAM Systems GmbH , dipasang di belakang kapal di atas geladak helikopter .

Senjata
Kapal ini dilengkapi dengan 76mm Oto Melara anti - udara dan senjata anti - permukaan . Pistol ini mampu tingkat pembakaran sampai 85 putaran satu menit untuk jangkauan lebih dari 15 km . Dua 20mm senjata Model Rh202 dari Rheinmetal dipasang pelabuhan dan kanan .

Torpedo
Kapal ini dilengkapi dengan dua 324mm mk32 tabung torpedo kembar dan delapan DM 4A1 atau mk46 mod 2 torpedo dari ATK ( AlliantTechsystems ) .

Helikopter
Kapal menampung dua helikopter kelas 4.5t , yang mk88 Sea Lynx dari AgustaWestland . Helikopter dilengkapi dengan AQS - 18D mencelupkan sonar dari L - 3 Communications - Samudera Sistem dan dua torpedo ketik mk46 atau ketik DM4 . Penanganan tes pada helikopter telah berhasil dilakukan hingga angin kekuatan 8 . Hanggar menyediakan ruang , fasilitas dan peralatan untuk pemeliharaan dua helikopter . Dek penerbangan cukup besar untuk pendaratan helikopter jenis Sea King .

Sea Lynx of MFG 3 on approach to a naval vessel

Sistem Pertahanan 
Piranti peperangan elektronik meliputi FL 1800 S - II terpadu penanggulangan elektronik dan langkah-langkah dukungan yang dikembangkan oleh DaimlerChrysler Aerospace ( sekarang EADS Systems & Defence Electronics ) . Sistem umpan kapal adalah Super RBOC (super rapid blooming offboard countermeasures) peluncur decoy dari Sippican Hycor . Anti torpedo/pengecoh menggunakan KKS - 25 Nixie .

Radar
Sistem radar kapal termasuk Thales Nederland (sebelumnya Signaal ) DA 08 , udara / permukaan radar pencari . The DA 08 dijadwalkan akan digantikan oleh EADS Sistem Pertahanan & Elektronik TRS - 3D udara dan permukaan pencarian radar , untuk meningkatkan kemampuan CIWS (close-in weapon system).
Radar navigasi kapal adalah SMA 3 RM20 beroperasi di pita I . Radar pengendalian kebakaran adalah I / J Band WM25 dan I / J / K radar Band Sospol dari Thales Nederland . Haluan sonar dome dilengkapi dengan jendela karet untuk lambung dipasang pencarian sonar , yang DSQS - 21 dari Atlas Elektronik . The DSQS - 21 beroperasi di aktif dan pasif modus hingga frekuensi sonar yang tinggi .
Pada bulan November 2007 , EADS Defence Electronics dikontrak untuk memasok sistem MSSR 2000 IFF Mode S information friend or foe (IFF) untuk instalasi pada Frigate Bremen Class.

Mesin
Gabungan diesel atau turbin gas sistem propulsi , CODOG , terdiri dari dua turbin gas GE tipe LM2500 untuk kecepatan maksimum , dan dua mesin diesel MTU jenis 20 V 956 TB 92 untuk berlayar . Gearbox reduksi yang disediakan oleh Renk Tacke dan BHS Getriebetechnik . Lima berbilah baling-baling lapangan dikontrol dari Sulzer - Escher Wyss GmbH adalah baling-baling low-noise .

GE LM 2500 Gas Turbine engine of the Bremen Class (F122) Frigates

Mari kita lihat penampakan-penampakan mereka.

File:F207 Bremen, Clyde 26 2 06a.jpg

File:F208 Niedersachsen.jpg

File:Fregatte Rheinland-Pfalz.jpg

File:FGS Emden-30.jpg

File:Fregatte Koeln 1.jpg


f 213 fgs augsburg bremen class frigate type 122 german navy

File:F214-Lübeck-Plymouth Sound.jpg
Diperkirakan dua diantaranya akan ikut parade di bulan Oktober 2014 di akhir masa bhakti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mari kita tunggu.