Minggu, 24 Mei 2015

Perkembangan Tank Medium Pindad Turki

Desain tank Pindad yang beredar di Sosial Media

Militer Indonesia-Sejumlah anggota Komisi I DPR melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad, dipimpin oleh Ketua Komisi I DPR Ri Mayor Jenderal (Purn) Supiadin Aries Saputra. Mereka diterima oleh Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Auditorium Gedung Direktorat PT Pindad, Bandung yang juga dihadiri jajaran Direksi dan pimpinan PT Pindad, 16/3/2015.

Adapun kunjungan kerja ini dilakukan untuk meminta data dan informasi dari PT Pindad mengenai perkembangan kerjasama proyek medium tank dengan Turki. “Kunjungan ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai perkembangan kerjasama pertahanan antara Pindad dengan Turki, termasuk bagaimana respon dari Kementerian Pertahanan dan TNI dalam mendukung implementasi kerjasama tersebut,” ujar Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra mewakili para anggotanya.

Silmy Karim, menanggapi hal tersebut, mengatakan bahwa proyek bersama Indonesia – Turki mengenai medium tank sudah diinisiasi sejak lama, namun analisis kemampuan Pindad terus dilakukan. “Kerjasama ini sebenarnya sudah dinisiasi sejak lama oleh Pemerintah, bahkan penandatanganannya sudah terjadi sejak tahun 2013. Secara manufaktur dan testing Pindad sudah siap. Namun ada beberapa teknologi yang masih memerlukan bantuan dari para mitra seperti turret dan firing control system, navigation system, serta self defence system. Kami ingin membuat medium tank yang sempurna baik dari mobility, fire power, dan survivability” ujar Silmy.

Jadwal pengerjaan proyek sudah dibuat. Jika semuanya berjalan lancar, pada tahun 2015 ini akan dibuat satu unit purwarupa produk di Indonesia dan satu unit di Turki. Komunikasi yang lebih intens juga sedang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Savunma Sanayii M (SSM), Kementerian Pertahanan Turki. “Untuk progress B2B, sudah dikirimkan beberapa karyawan Pindad untuk mempelajari lebih jauh teknik pengelasan aluminium armored yang dipakai sebagai bahan baku medium tank,” ujar Silmy. Ia juga menyatakan rasa optimisnya bahwa proyek ini akan berjalan dengan baik di masa depan. “Kami optimis program medium tank ini akan berjalan dengan baik karena latar belakang teknologi industri pertahanan Indonesia dan Turki yang sudah cukup baik,” tutup Silmy.

Setelah diskusi panjang di auditorium selesai, rombongan Komisi I DPR RI mengunjungi beberapa fasilitas produksi PT Pindad di Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata untuk mencoba performa produk pertahanan dan keamanan Pindad secara langsung.

Sumber: Pindad.

Kontingen Garuda Juara Satu Lomba Menembak Unifil di Lebanon


Militer Indonesia-Para petembak Prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda dalam misi PBB di Lebanon, menunjukkan kemampuan terbaiknya pada pertandingan lomba menembak Intercontingen Shooting Championship yang diselenggarakan oleh Sektor Timur Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), bertempat di lapangan tembak Sektor Ebel El Saqi, Lebanon Selatan, Minggu (26/4/2015).

Lomba menembak Unifil diikuti oleh seluruh kontingen yang berada di Unifil, antara lain dari Spain Batt (Spanyol), Indobatt (Indonesia), Indo FPC (Indonesia), Indbatt (India), Nepalbatt (Nepal), dan Brigade-8 LAF (Lebanon), mempertandingkan dua kelas yaitu menembak Pistol Beregu dan Senapan Beregu.

Kontingen Garuda yang dimotori oleh petembak-petembak dari Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil atau Indobatt (Indonesian Battalion) dibawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP, selaku Komandan Satgas dan Satgas Indo FPC (Force Protection Company) Kontingen Garuda XXVI-G2/Unifil dibawah pimpinan Letkol Inf Muhammad Sjahroni selaku Komandan Satgas, mendominasi seluruh materi dalam pertandingan lomba menembak tersebut.

Pada lomba menembak Pistol Beregu, tim petembak Satgas Indobatt terdiri dari Kapten Mar Surya Afandi, Sertu (K) Dewa Ayu Alice Denita dan Pratu Febiarso, sedangkan Satgas Indo FPC diwakili oleh Pelda Setiyono, Sertu Dimas Baskoro dan Sertu Wara Wenny.

Juara Satu lomba menembak Pistol Beregu diraih oleh Satgas Indobatt, sedangkan Satgas Indo FPC menempati peringkat ketiga. Untuk The Best Shoot Pistol diraih oleh Kontingen Indbatt (India).
Pada lomba menembak Senapan Beregu, tim petembak Satgas Indo FPC dimotori oleh Sertu Edi Purnomo, Praka Syahrul Kurniawan dan Pratu Davit Putranto, sedangkan Satgas Indobatt diwakili oleh Serka Suwandi, Praka Mar Yunus Susanto dan Pratu Yoga Prasetiyono.

Juara Satu lomba menembak Senapan Beregu diraih oleh Satgas Indo FPC, sedangkan Satgas Indobatt menempati Juara Kedua. Untuk The Best Shoot Pistol diraih oleh Kontingen Indbatt (India). Dalam lomba menembak Senapan Beregu ini, salah satu petembak Kontingen Garuda yakni Serka Suwandi dari Satgas Indobatt terpilih sebagai The Best Shoot Riffle.

Sementara itu, hasil maksimal Kontingen Garuda pada pertandingan lomba menembak Unifil dilengkapi dengan terpilihnya tim penembak Satgas Indobatt sebagai tim terbaik dalam kategori Intercontingen Shooting Championship. Penyerahan piala kepada para pemenang diserahkan langsung oleh Wakil Komandan Sektor Timur Unifil, Kolonel Kav Yotanabey.

Wakil Komandan Sektor Timur mengatakan bahwa, hasil yang dicapai ini menunjukkan kemampuan menembak prajurit Kontingen Garuda tidak kalah dengan prajurit kontingen negara lain, walaupun kondisi cuaca yang kurang mendukung tetapi para petembak Kontingen Garuda mampu menyesuaikan dengan keadaan cuaca dan alam. “Semoga prestasi Kontingen Garuda Unifil 2015 semakin mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional”, ujar Kolonel Kav Yotanabey. (Pupen TNI).

Authentikasi :
Perwira Penerangan Konga XXIII-I/Unifil, Kapten Laut (KH) Ahmad Suberlian, S.H.

5 Pesawat Tempur Terbaik Dunia, Pernah Dimiliki TNI AU

Mig 17 AURI (Merdeka.com)

Militer Indonesia-Setelah Perang Dunia II berakhir ditandai dengan menyerahnya Jepang membuat Indonesia bergerak cepat membangun pertahanan untuk menghadang kembalinya Belanda ke bumi pertiwi. Usai proklamasi, Indonesia segera menyita sejumlah pesawat tempur milik Jepang yang ditinggalkan.

Sejak itu, Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang memiliki kekuatan pertahanan udara. Saat itu, Indonesia memiliki sejumlah pesawat tempur, yakni Mitsubishi A6M Zero-Sen, Mitsubishi J2M Raiden, Nakajima Ki-43 Hayabusa, Nakajima Ki-44 Shoki dan Nakajima Ki-84 Hayate. Indonesia juga menyita pesawat Curtiss P-36 Mohawk, Curtiss P-40E Warhawk, Supermarine Spitfire, Vought F-4U Corsair milik AU Belanda.

Penarikan mundur tentara KNIL dari Nusantara membuat Indonesia memiliki penambahan kekuatan.TNI AU mengambil alih P-51 Mustang, B-25 Mitchell, T-6 Texan, Douglas A-26 Invader, Douglas C-47 Dakota. Indonesia juga menerima De Havilland DH-115 Vampire dari Inggris dan sempat dipakai selama beberapa dekade berikutnya.

Kedekatan Indonesia dengan blok timur di bawah Uni Soviet membuat negeri ini menerima sejumlah pesawat baru dan paling modern. Pesawat sejenis Mikoyan-Gurevich MiG-15, hingga MiG 21 dimiliki TNI AU hingga disebut sebagai Macan Asia.

Berikut pesawat tempur terbaik dunia yang pernah dimiliki TNI AU:

Mig 17

MiG-17 Fresco
Mikoyan-Gurevich MiG-17 merupakan salah satu pesawat tempur modern yang dimiliki TNI AU. Kedekatan hubungan membuat Uni Soviet tak keberatan ketika Indonesia berniat membeli 66 unit pesawat ini.

Pesawat ini pertama kali terlibat dalam pertempuran udara di Selat Taiwan dan Perang Vietnam. Dalam kedua pertempuran itu, pesawat ini membuat pesawat-pesawat tempur yang diterbangkan pilot AS waspada.

MiG-17 Fresco semula dibuat sebagai pesawat tempur serbaguna dengan pengoperasian siang hari. Pesawat ini juga dapat digunakan sebagai pesawat tempur-bomber, tetapi daya angkut bom-nya relatif kecil jika dibandingkan dengan pesawat lain saat itu, dan biasanya membawa tangki bahan bakar tambahan selain bom.

MiG-17 memiliki panjang 11,26 meter dan lebar sayap 9,63 meter. Pesawat berbobot kosong 3.919 kg dan bobot maksimal 5.350 kg ini dilengkapi mesin Klimov VK-1F. Kecepatan pesawat mencapai 1.145 km per jam pada ketinggian 10.000 kaki dan melesat sampai 2.060 km.

Pesawat varian ini dipersenjatai dua senapan 23mm NR-23 dan satu senapan 37mm N-37, yang terpasang di bawah intake-udara. TNI AU sendiri memiliki dua varian pesawat jenis ini, yakni MiG-17F, MiG-17PF. Semua varian dapat membawa 100 kg bom hingga 250 kg bom. MiG-17PF TNI AU dilengkapi radar Izumrud-5 (RP-5).

Mig 21

MiG-21 Fishbed
Tak kalah dengan pendahulunya, MiG-21 memiliki panjang 14,5 meter dan lebar sayap 7.154 meter ini memiliki bobot bersih 8.825 kg. Pesawat ini dilengkapi sebuah mesin Tumansky R25-300 yang membuatnya melesat hingga 2.175 km per jam dengan jarak tempuh 1.210 km.

Pesawat ini menjadi pesawat yang paling sukses dibuat Mikoyan, jet supersonik ini paling banyak populasinya dan banyak digunakan sejumlah negara dunia. Salah satu fitur yang menonjol adalah biaya produksinya yang rendah.

NATO, memberikan julukan khusus untuk MiG-21 yakni ‘fishbed’, yang berarti fosil ikan. Sedangkan pilot Soviet menyebut pesawat ini ‘balalaika’ karena sayapnya yang berbentuk segitiga.
Seperti MiG-17, MiG-21 juga sukses dalam perang Vietnam. Bodinya yang ramping membuat jet ini mampu bergerak dengan gesit dan lincah. Kondisi ini membuat armada AS membuat taktik khusus guna menghadapinya, namun tindakan itu tak membuat MiG-21 kalah dalam pertempuran udara.

 TU-16 Badger

Tu-16 Badger
TNI AU menerima 25 unit pesawat bomber Tu-16 Badger dengan varian Tu-16KS-1 pada 1961. Pesawat-pesawat ini sedianya bakal digunakan untuk Operasi Trikora dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda.

Salah satu targetnya adalah Kapal Hr Ms Karel Doorman, sebuah kapal induk AL Belanda yang berlayar dekat Irian Barat. Kapal ini menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel,
14 Unit Tu-16 ditempatkan dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42. Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.

Tu-16 ini memuat 7 orang kru mulai diperkenalkan pada 1954 dan berhenti diproduksi tahun 1993. Pesawat berbobot kosong 37.200 kg ini dilengkapi 2 mesin Mikulin AM-3 M-500 dan mampu melesat hingga 1.050 km per jam, serta mampu menjelajah sampai 7.200 km.

Pesawat ini dilengkapi 6-7 meriam Afanasev Makarov AM-23 23 mm, dan rudal jenis Raduga KS-1 Komet (AS-1 Kennel), Raduga K-10S (AS-2 Kipper) anti-kapal, atau Raduga KSR-5 ( AS-6 Kingfish ) anti-kapal. Dalam misi pengeboman, Tu-16 mampu membawa 9.000 kg bom menuju target. Pesawat inilah yang dulu sempat membuat Australia ketar-ketir.

North American B-25 Mitchell

North American B-25 Mitchell
Pesawat pembom bermesin kembar kelas menengah ini dibuat North American Aviation dan banyak digunakan sejumlah angkatan udara sekutu. Pesawat ini sering digunakan dalam berbagai misi pemboman udara selama berlangsungnya Perang Dunia II dan tetap digunakan selama dua dekade.

TNI AU mendapatkan pesawat ini secara gratis dari tangan Angkatan Udara Belanda (RNLAF). Bersama 26 Invader, keduanya menjadi kekuatan inti dari Skadron 1 AURI.

Di bawah Skadron 1, kedua pembom B-25 dan B-26 bertugas sebagai pembom taktis. Tugasnya adalah membantu operasi darat dan Taut. Karena semakin meningkatnya intensitas konflik horizontal di dalam negeri, permintaan dukungan dari Skadron 1pun semakin meningkat.

Tidak lama setelah diterima AURI, B-25 langsung ditugaskan untuk menjalani sejumlah operasi militer di seluruh Tanah Air. termasuk pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI/Permesta hingga mendukung Operasi Seroja yang berlangsung pada 1975.

Secara spesifikasi, pesawat ini diawaki enam orang kru. Bermesin Wright R-2600-92 Twin Cyclone 14-silinder air-cooled radial engine, B-25 mampu melesan hingga 272 mph, atau 438 km per jam.
Pesawat ini dilengkapi senapan mesin kaliber 12.7 mm dan kanon T13E1 kaliber 74 mm, serta high velocity aircraft rockets (HVAR) kaliber 127 mm. Bom yang dapat dibawa mencapai 1.360 kg.

A-4 Skyhawks

A-4 Skyhawks
Pembelian pesawat ini bermula dari memburuknya hubungan Indonesia dengan Uni Soviet di era Orde Baru, alhasil spareparts untuk memperbaiki Il-28 Beagles dan Tu-16 Badgers disetop. Untuk menggantikannya, TNI AU mengincar A-4 Skyhawks dari Amerika Serikat, namun ternyata negara ini hanya mampu memberikan sedikit, sedangkan kebutuhan armada sangat banyak.

Indonesia lantas memutuskan untuk membeli pesawat tersebut dari Israel meski tak memiliki hubungan diplomatik sekalipun. Alhasil, pesawat ini berdinas sejak 1982 hingga dipensiunkan pada 2003. Pada tahun itu, TNI AU menggantinya dengan dua unit Su-27SK dan dua unit Su-30MK dari Rusia.

Dengan mengandalkan mesin Pratt & Whitney J52-P8A turbojet, pesawat ini mampu melesat dengan kecepatan 1.077 km per jam dan menempuh jarak hingga 3.220 km. Tak heran jika TNI AU sempat menampilkan kecanggihan pesawat ini dalam serangkaian acara aerobatik udara.

Dalam pertempuran, A-4 Skyhawk dapat mengangkut 2 unit kanon Colt Mk 12 kaliber 20 mm yang mampu menembakkan 100 peluru, menembakkan roket Mk 32 Zuni. Pesawat ini juga dapat membawa AIM-9 Sidewinder, AGM-12 Bullpup, AGM-45 Shrike anti-radiation missile, AGM-62 Walleye TV-guided glide bomb, dan AGM-65 Maverick.

Sedangkan bom yang dapat diangkut jet tempur ini antara lain Rockeye-II Mark 20 Cluster Bomb Unit (CBU), Rockeye Mark 7/APAM-59 CBU, Mark 80 series of unguided bombs, B43 nuclear bomb, B57 nuclear bomb dan B61 nuclear bomb. (Merdeka.com)

TNI AU Remajakan Alutsista

SU-35 salah satu calon pengganti F-5 Tiger TNI AU (foto: Sukhoi)

Militer Indonesia-TNI Angkatan Udara berupaya memodernisasi dan memperbanyak jumlah pesawat dengan tujuan memaksimalkan fungsi pertahanan udara di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berdasarkan data TNI AU, ada 29 pesawat yang diterima pada 2014 lalu, yaitu 16 Sukhoi, 8 pesawat Super Tucano dan 5 unit F16.

“Ke depan ada modernisasi pesawat tempur, transport, heli,” tutur Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna di Skuardron 2 Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (7/4/2015).

Modernisasi tak hanya sebatas itu, tapi juga radar untuk mendeteksi pesawat asing. Agus menjelaskan, TNI AU saat ini memiliki 22 radar, namun jumlah ini masih kurang.

Secara perhitungan, imbuh Marsekal Agus, diperlukan 32 unit radar agar pengamanan wilayah udara dapat mencakup seluruh NKRI. Pemenuhan kebutuhan itu dapat terwujud, tapi bertahap.
“Radar datang 2 tahun ini. Mudah-mudahan setiap tahun bertambah,” jelas Agus.

Selain menambah radar, Agus juga berencana pesawat peringatan dini atau Early Warning Airbones dapat diadakan sehingga memperkuat upaya anggota melindungi wilayah udara RI jika sewaktu-waktu ada pesawat asing yang menyusup.

Ia melanjutkan, untuk pengadaan Sukhoi 35 atau F-16 Block 70 yang direncanakan menggantikan pesawat lawas F-5 Tiger, Agus menyerahkan hasil akhirnya kepada Kementerian Pertahanan atau Kemhan. Karena tugas TNI AU hanya mengkaji spesifikasi pesawat tempur, bukan menentukan pilihan.

“Kita ajukan ke Kemhan dan tunggu keputusannya. Tapi pihak Sukhoi 35 dan juga F-16 Block 70 menyatakan sanggup secara bertahap penyediaannya,” tandas KSAU Marsekal Agus Supriatna. (Liputan6.com).

Den Bravo Hanya Butuh Dua Menit Bebaskan Sandera

Den Bravo Hanya Butuh Dua Menit Bebaskan Sandera (Foto: Okezone)

Militer Indonesia-Sepuluh personel Detasemen Bravo (Den Bravo-90) Korpaskhas  menggelar simulasi pembebasan sandera di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pantauan Okezone, pasukan antiteror itu bersejata lengkap langsung merengsek ke lokasi secara cepat.

Tak sampai dua menit, Den Bravo berhasil melumpuhkan penyandera yang berjumlah lima orang di dalam bus. Sementara itu, helikopter Super Puma tiba ke lokasi untuk menetralisir wilayah.

Selain itu, sebanyak 68 penerjun gabungan TNI AU juga menjadi pemandangan yang menghibur para warga di sekitar Lanud Halim Perdana Kusuma.

Ningrum (40) misalnya, warga kelurahan Halim itu memboyong putri serta ibunya untuk menonton aksi prajurit dalam HUT TNI AU ke-69. “Seneng lihat, bangga sama prajurit kalau begini,” jelasnya.

Pesawat T-50 I Golden Eagle juga beraksi dengan melakukan manuver-manuver menegangkan. Salah satu atraksinya ialah menukik ke bawah dan langsung bergerak ke atas, serta manuver berbelok dengan kecepatan tinggi. (okezone.com)

2.140 Personel Ramaikan HUT ke-69 TNI AU

Pesawat KT-1B buatan Korsel, milik Jupiters Aerobatic Team, TNI AU. (TNI AU)

Militer Indonesia- Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-69, hari ini, Kamis (9/4). Upacara peringatan HUT digelar di Taxyway Echo, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pukul 09.00 WIB.

Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna. Sementara komandan upacara adalah Kolonel Agus Setyawan, yang sehari-hari bertugas sebagai liason officer Kodam IX Udayana.

Upacara ini melibatkan 2.140 personel yang tergabung dalam parade pasukan, yang dibagi dalam dua brigade. Brigade satu terdiri dari empat batalion, yaitu Batalion Pamen Gabungan, Batalion Pama, Batalion gabungan Taruna AAU, Wara, Pomau dan Batalion Air Crew. Brigade dua terdiri atas Batalion Paskhasau, Batalion gabungan Ba/Ta dan Batalion PNS.

Upacara juga dimeriahkan demonstrasi darat, seperti simulasi pembebasan sandera oleh Detasemen Bravo Korpaskhas.

Sementara demonstrasi udara menampilkan penerjunan prajurit Korpaskhas, flypass 6 pesawat CN-295, flypass 8 pesawat C-130 Hercules, flypass 6 pesawat F-16 figthing falcon. Demonstrasi udara lainnya adalah flypass 8 pesawat T-50i Golden Eagle, aerobatik 6 pesawat KT Wong Be Jupiter Aerobatic Team dan solo aerobatic oleh pesawat tempur T-50i Golden Eagle. (beritasatu.com)

Jumat, 22 Mei 2015

Wacana Pengadaan PAK TA Sebagai Pengganti Hercules (Opini)

Can you picture it rolling down the tarmac? Picture: Oscar ViƱals
Militer Indonesia-Luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari kumpulan ribuan pulau mengakibatkan sulitnya deploymen alutsista secara cepat dan tepat. Bila menggunakan LST tentu waktunya terlalu lama, apalagi bila keadaan sangat genting seperti saat ini di beberapa wilayah di tanah air khususnya di perbatasan negara. Tentu sangat merepotkan bila pergerakan dari darat yang mengandalkan MBT terhalang jarak jangkau yang melewati lautan, Maka pesawat kargo seperti Hercules sangat penting, namun masih terbatas kapasitas angkutnya.
Dalam hal ini, Rusia tengah mengembangkan PAK TA yakni pesawat kargo besar yang mampu terbang kecepatan supersonik (hingga 1235km / jam), dapat membawa sampai 200 ton dan memiliki jelajah hingga 7.000 kilometer. Atau kira-kira jarak antara Sydney dan Hong Kong.
Rusia tengah membangun 80 dari pesawat kargo PAK TA hingga 2024, maka Indonesia perlu untuk menjalin kerjasama didalamnya mengingat kebutuhan yang amat mendesak.
Armada A diduga mampu penyebaran penuh militer.

Namun, banyak pengamat militer skeptis melihat proyek ini dikarenakan berat dan ukuran PAK TA membutuhkan landasan yang panjang dan besar, apalagi  konsumsi bahan bakarnya sangat besar. Belum lagi lebar sayapnya, menjadikannya sebagai sasaran empuk bagi pasukan musuh.
Itu sejalan dengan tujuan Rusia untuk memodernisasi pesawat angkut yang telah mengalami penuaan dalam 10 tahun ke depan. Negara ini telah mendedikasikan lebih dari $ 130 miliar hingga 2020 untuk modernisasi angkatan udara yang besar.

PAK TA akan dapat mengangkut tidak hanya MBT Armata, tetapi perangkat keras militer lainnya, seperti enhance self-propelled artillery weapons systems, tactical missiles carriers, multiple missile launch systems, anti-aircraft missile complexes dan antitank missile vehicles.
Pesawat kargo ini akan menjadi pesawat multi-level dan memiliki kemampuan untuk Air Drop hardware  (memasok alutsista dari udara) dan tentara di medan apapun.
Mengintimidasi ... jika nyata.

"Ini berarti untuk pertama kalinya kita memiliki tujuan menciptakan kemampuan operasional untuk mengangkut tentara penuh ke tempat yang diinginkan di planet ini," kata sumber itu.
Armada ini nantinya dapat memberikan gugus tugas seukuran dengan pasukan NATO dan AS yang berada di Irak dalam hitungan jam ke benua manapun. Nah, tidak ada salahnya kan kalau kita mengakuisisi ini? Salam NKRI