
Militer Indonesia-Dengung Perang Dunia Ketiga sudah mulai ramai berkumandang dimana-mana, berbagai macam prediksi dan analisis terus disampaikan. Dari Perang Cyber hingga Perang Nuklir diperkirakan segera terjadi antara 2015-2020 sebagai masa transisi. Berbagai konflik antar negara telah mewarnai tahun-tahun sebelumnya dan terus saja terulang kembali dengan banyak alasan yang kadang-kadang tidak masuk akal. Rekayasa dari intrik-intrik ini memang dari Barat, mengkondisikan negara lain sebagai musuh dan berusaha untuk melemahkan termasuk dengan cara mengadu domba antar negara dan antar warga negara, sehingga mereka akan masuk dengan mudahnya.

Indonesia memang sudah mengantisipasi berbagai macam skenario dari Barat termasuk skenario Balkanisasi di Tanah Papua, sehingga tidak salah kekuatan militer disana merupakan salah satu kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara. Dimulai dari kejadian di bulan Desember 2004 itulah Pemerintah SBY seolah terbangun dari mimpi yang panjang, ujicoba Nuklir Amerika yang kemudian menyebabkan Tsunami Aceh yang menewaskan ratusan ribu nyawa di Pulau Sumatra dan negara-negara disekitarnya menjadi tonggak kebangkitan kejayaan Indonesia. Tidak salah rakyat Indonesia memilih SBY sebagai Presiden RI dua kali berturut-turut karena beliaulah yang membuka gerbang kejayaan Nusantara ini kembali menjadi Macan Asia. Dan bahkan bila dibandingkan, belum ada Presiden RI yang mampu menyamai prestasi beliau yang bahkan Soekarnopun tidak mampu. Kalaupun Undang-Undang dapat dirubah, SBY tentulah masih pantas memimpin negeri ini, yang masih membutuhkan tenaga dan pikirannya dimana beliau memang salah satu gurunya ahli strategi.

Perkuatan alutsista Indonesia yang telah ditutup rapat-rapat dari media, perlahan namun pasti mulai dibuka meskipun sebatas alutsista kelas dua menurut ukuran TNI. Dari semua matra TNI mendapat porsi yang sesuai, ibarat apotik, Indonesia tersedia semua merk obat dari generik hingga obat dosis tinggi. Apapun penyakitnya, tersedia obatnya, Siapapun musuhnya, Indonesia sanggup menangkalnya. Negara manapun di dunia saat ini adalah sahabat Indonesia, "A thousand friends and zero enemies" yang merupakan prinsip dasar hubungan luar negeri yang didasarkan pada posisi non blok. Namun bisa saja berubah menjadi "All enemies without friends" sehingga memerlukan penangkalnya bila diserang oleh banyak negara, dan jawabannya adalah perkuatan kemandirian alutsista dan ekonomi.

Apa yang dikawatirkan oleh negara barat bukanlah alutsista yang dibeli oleh pemerintah Indonesia, tetapi apa yang dapat dibuat dan diproduksi oleh negara ini , dalam hal ini adalah produksi alutsista. Teknologi Nuklir baik yang berupa reaktor maupun rudal ICBM telah dan terus dikembangkan, Satelit Militer sudah dan terus ditambah, Cyber Army telah dan terus berkembang, pesawat tempur generasi 4+++ dan generasi 5 telah dan terus dikembangkan, Kapal Siluman, Kapal selam, Kapal Induk, MBT, Radar dan masih banyak alutsista buatan Indonesia yang lain telah dan terus dikembangkan. Sedikit demi sedikit telah dibuka seiring penguatan nasionalisme rakyat dalam menjaga integrasi demi kejayaan dan kemakmuran rakyatnya.

Dan ketika hari itu datang, jangan heran bila melihat Australia seperti Indonesia, bendera Merah Putih berkibar dari Darwin hingga Canberra. Jangan heran melihat Singapura dan Malaysia memperingati Proklamasi Kemerdekaan kita di setiap tanggal 17 saat upacara bendera. Jangan takjub bila melihat anak-anak Palestina menyambut kita layaknya saudara jauh yang datang berkunjung. Bahkan didaratan Amerika nun jauh disana layaknya suasana Indonesia dan Merah Putih berkibar dimana-mana. Hari itu dimana kebajikan mengalahkan kejahatan, hari dimana kejujuran mengalahkan kebohongan, dan kemenangan itu memang datang dan pasti.
IMHO.














