Selasa, 25 Maret 2014

Club K Container Missile System Layak Diakuisisi

Berkas:Club-K MAKS-2011 02.jpg
Militer Indonesia-Kerjasama Indonesia-Rusia dibidang pertahanan khususnya dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) telah berjalan cukup lama. Naik turun hubungan ini dimulai sejak jaman Presiden Soekarno, Soeharto hingga Presiden SBY saat ini. Dari pengadaan untuk TNI AU, TNI AL dan TNI AD telah dan terus berjalan, dimana selalu menyertakan Transfer of Technology (ToT) sebagai syarat pengadaan alutsista berbagai matra TNI dari produk luar. Ini jelas menguntungkan bagi Indonesia, untuk memajukan industri di dalam negeri terutama bagi pengembangan alutsista lokal. 
Salah satunya adalah kerjasama pengadaan Rudal Club K dari Rusia yang di bungkus dengan kerjasama rel kereta api di Kalimantan. Diharapkan nanti, Pulau kalimantan dapat dilalui kereta api yang dilihat dari teknisnya tidak akan kesulitan untuk ditempatkan Club K ini yang akan terpasang di kereta api. Jelas jalur transportasi ini sangat strategis karena mampu dengan cepat diluncurkan ke perbatasan Malaysia jika sewaktu-waktu terjadi konflik seperti terjadi tahun 2005 silam.
Club K tidak hanya diluncurkan dari kereta api, namun juga dipasangkan di kendaraan darat biasa layaknya truk kontainer biasa, dan jelas musuh tidak akan pernah tahu dan bisa membedakan mana yang asli kontainer mana yang Club K. Demikian juga ketika diangkut oleh kapal-kapal laut, yang seolah-olah kapal pengangkut namun dengan cepat berubah menjadi kapal perang yang mematikan.

Sistem rudal Rusia wadah baru, yang dikenal sebagai Club-K, merupakan penyebab saat ini menjadi perhatian para ahli militer karena sulit dideteksi. Menurut Reubon Johnson para ahli dari Departemen Pertahanan AS takut senjata dapat mengubah keseimbangan militer di dunia.
Perangkat ini, dengan empat rudal balistik darat ke laut dan laut ke laut, tidak dibedakan dari wadah-meter panjang 12, seperti yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang melalui laut atau kereta api, tambah sumber itu. Kamuflase yang membuat sangat sulit untuk mengidentifikasi angkutan rudal disimpan di dalam wadah, seperti yang dilansir Russia Today.
Untuk bagiannya, website Politikus mengungkapkan bahwa kontainer bergerak dapat ditempatkan di kapal, truk, kereta api dan platform. Kamuflase mereka sangat baik akan memaksa sistem rudal musuh 'untuk mengintensifkan dan mengubah pekerjaan intelijen mereka sebelum merencanakan serangan'.Rudal Club-K dapat dipindahkan diam-diam ke zona operasi mungkin dan melaksanakan artileri reaktif menembak menghancurkan dengan jangkauan hingga 300 kilometer, tambah sumber itu.
Namun ditengah upaya peningkatan kemampuan pertahanan di negeri ini, patut disayangkan adanya upaya pelemahan dan penjegalan atas program pengadaan alutsista ini dari negara-negara besar dan antek-anteknya yang tidak menginginkan Indonesia menjadi negara besar. Dan yang paling berbahaya adalah antek-antek asing berkewarganegaraan Indonesia yang rela menjual diri demi dollar, semoga kita bukan termasuk diantaranya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar