
Militer Indonesia-Indonesia saat ini benar-benar kebanjiran peminat penjual alutsista dari berbagai negara, baik dari blok barat maupun blok timur. Berbagai tawaran pembelian alutsista dengan iming-iming harga khusus dan transfer of technology (ToT). Ini tak lepas dari kebijakan pemerintah yang menjaga kenetralannya dalam menghadapi setiap konflik di dunia dengan tetap ikut andil didalamnya sebagai negara sahabat. Di samping pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat baik dengan kecenderungan tren naik setiap tahunnya, posisi Indonesia yang netral dari konflik Laut Cina Selatan (LCS) menjadi rebutan pengaruh dari Cina dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat berupaya mengimbangi pengaruh Cina terhadap Indonesia dengan mengiming-imingi pesawat silumannya yakni F-22 Raptor dan F-35, dimana dijanjikan F-35 akan dikirim lebih dulu dari pesanan Australia maupun Singapura. Terlebih pesawat andalannya yang tidak dijual ke negara lainnya juga ditawarkan, yakni F-22 Raptor, apalagi disertai dengan janji tot. Ini sangat membantu Indonesia yang sedang mengalami kebuntuan pada teknologi stealth dan avionicnya dalam proyek pesawat tempur nasional kerjasama dengan Korea Selatan untuk merancang KFX/IFX.
Kerjasama dengan USA ini diawali dengan hibah pesawat F-16 Block 52 sebanyak 2 skadron yang akan dikirim pada akhir tahun 2014 dan helikopter serang Apace Guardian yang lebih dulu masuk ke tanah air di awal tahun 2014. Tentu saja ini merupakan hubungan termanis sejak awal berdirinya Republik ini, yang mengalami pasang surut hubungan sejak jaman Bung Karno, Pak Harto hingga Pak SBY.
Tawaran ini patut dicermati karena beresiko di embargo lagi jika berseberangan dengan kebijakan USA, layaknya terjadi setelah jajak pendapat di Timor Leste dengan alasan pelanggaran HAM berat. Serta adanya penambangan-penambangan mereka baik Freeport dan Exxon Mobile, perlu diawasi terlebih ijin mereka telah diperpanjang hingga 2041 dengan bagi hasil 51% untuk pemerintah dan kewajiban membuat smelter didalam negeri.

Diharapkan penambahan armada tempur berat ini menambah daya gentar kawasan yang sejak dua tahun belakangan ini semakin panas suhunya, dan Indonesia yang memegang kuncinya. Salam. (IMHO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar