
Militer Indonesia-Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, mengatakan siap menerima kunjungan Menlu Amerika Serikat, John Kerry, pada Senin 17 Februari 2014. Dalam kunjungan tersebut, dua nota kesepahaman (MoU) siap ditandandatangani kedua menlu. Kunjungan Kerry kali ini, ujar Marty, merupakan kali kedua dia ke Indonesia. Sebelumnya, Kerry sudah pernah ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan APEC di Nusa Dua, Bali, pada Oktober 2013. Kerry dijadwalkan tiba di Indonesia pada Sabtu, 15 Februari 2014.
Di Jakarta, Kerry akan menegaskan dukungan AS atas meningkatnya kepemimpinan Indonesia atas tantangan-tantangan global. Kerry juga akan menindaklanjuti kerjasama AS dan Indonesia atas beberapa isu seperti perubahan iklim, keamanan, demokrasi, integrasi kawasan, dan hak asasi manusia.

MoU ini diperkirakan termasuk penawaran hibah Pesawat Tempur Berat yaitu F15 dan F18 bekas pakai Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dengan upgrade dan persenjataannya. Jumlahnya tidak lebih dari 2 skadron untuk masing-masing tipe, dan penempatannya di proyeksikan di utara yakni Aceh, Kalimantan dan Maluku.
Bila dikaji lebih rinci, ini menimbulkan kekawatiran dikalangan TNI AU sebagai user, dimana pengalaman Indonesia pernah mengalami embargo militer dari Amerika Serikat untuk pesawat Tempur F5, F16 dan pesawat angkut berat C-130 Hercules untuk maintenance dan suku cadangnya. Meskipun tahun 2005 telah dicabut embargo ini, Pemerintah Indonesia jelas berpikir ulang untuk menerima tawaran ini. Terlebih banyak persyaratan yang diajukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terutama penguasaan tambang-tambang, terutama kelanjutan Freeport di Papua, Exxon Mobile dan terakhir adalah akses tak terbatas di Gunung Padang.
Semoga pemimpin negeri ini mampu bertindak cerdik layaknya 'si kancil' yang mampu mengecoh lawan yang sangar dengan taktiknya, dan itu semua demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar